Wednesday, November 16, 2016
Sepasang kekasih ini dilarikan ke RS. Kenapa???
MEJA13 - Sepasang kekasih yang dimabuk cinta dilarikan ke rumah sakit, setelah mereka berhubungan badan di dalam laut.
Pasangan muda awalnya tengah menikmati matahari Pantai Porto San Giorgio, setelah akhirnya masuk ke air. Di dalam air, ternyata keduanya melakukan hubungan seks.
Tetapi, apa yang mereka kira sebagai liburan romantis dan menyenangkan justru berakhir dengan rasa malu.
Keduanya tiba-tiba saja tidak bisa memisahkan diri dan terus menempel satu sama lain.
Kondisi tersebut disadari oleh seorang perempuan yang kebetulan melintas.
Perempuan itu pun menutupi pasangan kekasih ini dengan handuk.
Seorang dokter akhirnya dipanggil untuk memeriksa keadaan kedua kekasih itu. Pada akhirnya mereka pun dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan perawatan.
Setelah diberikan suntikan untuk melebarkan serviks dari perempuan hamil, pasangan tersebut pun akhirnya bisa terlepas.
Link Alternatif :
www.bintangcapsa.com
www.meja13.net
www.capsa168.com
ANTI NAWALA : http://192.169.219.143/
Sunday, July 24, 2016
Assistent Ibuku
MEJA13 - Kegemaranku menonton film cabul berawal dari penemuan tidak terduga dibalik tumpukan lipatan sarung didalam lemari kamar om aku pada awal sekolah menengah pertama. berhubung dulunya satu-satunya media pemutar vcd-vcd cabul tersebut ada di TV utama ruang tengah rumah aku, setiap malam aku ‘berkeliaran’ setelah seluruh penghuni rumah tertidur pulas. dari hari kehari, aku selalu penasaran dengan setiap ‘penemuan’ baru aku, dan terkadang perlu menunggu waktu lama untuk bisa menonton film-film baru koleksi om aku tersebut.
Pada suatu hari, seluruh keluarga berpergian keluar kota, aku tidak ikut serta dalam perjalan inap 2 hari tersebut dengan alasan ada janji temu dengan teman-teman besok harinya. namun akung, dirumah kebetulan mempekerjakan seorang ‘asisten ibu’ (untuk memperhalus kata pembokat), jadi aku tetap tidak leluasa untuk menonton film cabul temuan aku dan tetap perlu menunggu waktu yang tepat.
Haripun berganti malam, aku sangat penasaran dengan film baru ini, dan memutuskan untuk memutar film pada tengah malam seperti biasa namun tingkat kewaspadaan sedikit berkurang dari biasanya. mulailah aku memutar film demi film yang sangat membuat konak.
“kreeeekkk..” (pintu kamar Asisten Ibu terbuka).
aku pun kaget bukan kepalang beserta panik tiada tara. berhubung kamar Assistent tepat berada disamping ruang tengah rumah aku. sial… remote VCD playernya macet..
Filmpun terus berputar. Namun aku beruntung, Assistent sedang ngantuk berat sehingga tidak terlalu memperhatikan apa yan sedang aku tonton, dan diapun terus menuju kamar mandi untuk buang air.
Sekembalinya dia ke kamar, aku dapat mengatasi permasalahan pada remote tersebut. dan seolah-olah aku sedang nonton berita malam. dia pun kembali tidur dikamarnya.
Film pun hampir selesai ditonton semua. biasanya berakhir pada membuat bersin burung.namun kali ini lain, jantung aku berdegup kencang, memiliki hasrat untuk melihat barang wanita secara langsung, berhubung belum pernah.otak iblis aku memberi sinyal untuk mencoba mengintip barang Assistent.tanpa berpikir panjangpun aku memberanikan diri untuk memasuki kamarnya yang wangi.
“kreeekkk..” dia terlelap pulas. jantungpun semakin tidak menentu dengan pikiran-pikiran jahat yang telah terlintas dibenak. Akupun mengendap mendekatinya. dia mengenakan pakaian tidur tipis warna coklat. dia tidur terlentang, sehingga memudahkan aku memulai aksi aku.
Aku mulai mengelus wajahnya yang lumayan cantik, mulus sekali. dan tertarik untuk memegang payudaranya yang terlihat putingnya, karena dia sepertinya tidak mengenakan bra ketika tidur.
Aku buka perlahan kancing bajunya, dan merentagkannya lebar. tertampak lah buah dada yang kencang berisi, putingnya yang berwarna merah kecoklatan pun terlihat jelas. aku pun semakin tak karuan, nafas, detak jantung, semuanya.
Kemudian aku mencoba menurunkan celana pendekny, berhubung dipinggang hanya berbahan karet elasti, jadi mudah bagi aku untuk menurunkannya.
“wooww..”
Aku terkejut ternyata dia tidak mengenakan pakaian dalam, nampaklah kemaluan dengan rambut yang sangat sangat jarang dan tampak tidak pernah dicukur itu, sangat bersih dan mulus kelihatannya. berhubung warna kulitnya adalah putih, kemaluannya berwana merah.
Itu pertama kali aku melihat kemaluan secara langsung, namun berkeinginan untuk meneruskan aksi aku malam itu. mumpung.. Assistent pun masih terlelap, jadi kenapa tidak melanjutkan pekerjaan setengah jalan ini? aku pun mulai memegangi puting, payudara dan kemaluan yang aku dambakan itu secara berurutan. mulusnya. burung aku semakin berasa terbang. lama kelamaan kemaluannya menjadi basah dan sangat hangat. terkagetlah aku ketika Assistent tersadar dan duduk sambil bertanya
“Mas Joddy, sedang apa? kenapa aku jadi ‘begini’?…
“a..aa..anu.. emm.. ” aku terbata-bata tak bisa menjelaskan.
“kamu mau apa? mau memperkosa aku?” tanyanya lagi.
“maaf, aku g bermaksud begitu, tadinya cuma…cuma…” jawab aku.
“cuma terangsang? habis nonton film jorok khan tadi?” tanyanya. Dan akupun terkaget, ternyata dia tahu aku tadi menonton film cabul.
“aku tahu kok, dan aku sering ikut lihat secara diam-diam” dia berujar.
“Maaf, aku tadi cuma penasaran ingin melihat secara langsung apa yang ada di dalam film itu, cuma mau lihat kemaluan saja, sebab aku blum pernah” aku menyela.
“ya sudah, tak apa-apa” jawabnya tanpa membetulkan pakaiannya yang terbuka.
“kalau mau, aku tak apa-apa telanjang buat mas Joddy, bahkan melayani lebih pun tak jadi masalah” tambahnya.
“namun aku memiliki permintaan, aku ingin memberi hadiah buat keluarga aku untuk akhir tahun ini” pintanya.
“apa itu?” tanya aku
“aku ingin memberi uang lebih dari gaji aku untuk makan dan beli baju baru buat keluarga aku” jawabnya. dan akupun menyanggupi permintaannya dengan mempergunakan uang tabunganku..
Assistent, yang bernama Verho itu masih belia, berumur sekitar 18 tahun, berkulit putih bersih dan memiliki tubuh langsing yang sangat terawat. bersedia untuk melepaskan seluruh pakaian tanpa terkecuali dan melayani aku. akupun meminta untk eksekusi di dalam kamar tidur aku saja. dia pun mengiyakan.
Sesampainya dikamar aku, dia yang telah tidak berpakaian itu membantu aku melepaskan pakaian sepenuhnya hingga kamipun bertelanjang bulat. berbaringlah dia diatas ranjang
“silahkan mas” ujarnya sembari meletakkan kedua tangannya pada selangkangannya dan membuka lubang kenikmatannya yang merah merona. aku pun menghampiri tanpa basa-basi, mungkin karena iblis telah merasuk dan menguasai tubuhku.
Aku yang belum pernah melihat kemaluan secara langsung, sekarang ditantang untuk melakukan ‘gulat’ layaknya spasang suami istri.
Aku mengawali dengan mengecup bibirnya yang merah kecoklat mudaan. sembari meremas payudara dan mengelus putingnya yang keras. kemudian turun mengecup leher, turun ke payudara dan menjilati bagian putingnya. dia pun mendesis.
“ahh,, mass”
ciuman aku turun keperut dan berlanjut ke pinggir kemaluannya. awalnya aku ragu untuk melakukan ini, karena dalam pikir aku kemaluan itu bau, ternyata beda dengan barang milik Verho. harum, mungkin sewaktu dia ke kamar mandi dia mengenakan pembersih kemaluan.
Aku mulai menciumi bibir kemaluannya, sampai membuat dia menjambak rambutku. sembari mendesah keras.
“Ahhh..Aaahhh.. “(berhubung rumah kosong, jadi tidak ada rasa khawatir pada kami berdua) aku mulai mejilat lubang kemaluannya yang sudah sangat basah itu.
“Aawww.. Ahhh.ahh.aaahhh..” desahnya.
“mas Joddy, setubuhi aku sekarang ya. aku sudah ga kuat.”
Tanpa ragu, akupun mengarahkan penis aku yang berukuran 16cm ke arah kemaluan Verho, aku tancapkan perlahan, namun tak muat, curiga, dia masih perawan, dan… blessss..
“Arghhh…” teriaknya nikmat namun kesakitan. ternyata bernar, dia masih perawan.
“bentar mas.. sakit.. aw” pintanya. akupun mengehentikan aksi aku sejenak.
“lagi mas” pintanya lagi. dan pada saat itu aku benamkan seluruh burung aku kedalam kemaluannya.
berayun berirama keluar masuk dinding kemaluannya yang sangat becek dan semakin kencang aku mengocok terdengar sekali suara becek tersebut.
“Ahhh… ahh..ahhh.. emmm.. mas Joddy.. ughhhh..” desahan demi desahan tercipta dari bibir mungilnya.
“aku mau ‘keluar'” aku berkata.
“lepasin mas, jangan didalam, berbaring yah” pintanya.
aku pun melepaskan kenikmatan pertamakali aku tersebut dan berbaring sesuai mintanya. Verho menghampiri penis aku dan mengocoknya secara telaten, sangat nikmat.
“mau keluar” kataku. diapun berbalik badan berposisi 69, membuka mulutnya dan menghisap penisku.
“Srott,,srottt,,sroooottttttttttttttttt”
Air mani keluar begitu nikmatnya sambil melihat kemaluan indah Verho yang merekah setelah berhubungan itu persis dihadapan aku, indah sekali.
“aku mau mandi dulu y mas”. katanya
akupun mengiyakan namun hanya terbaring lemas seperti dikuras habis tenaga, selesainya ‘pertandingan’ dengan AI (Asisten Ibu) yang memakan waktu lebih dari 20 menit. namun dia tidak mempersilahkan aku menuju ronde kedua. diapun beranjak dari kamar aku dan mandi.
seorang Assisent bisa sangat telaten berhubungan intim, padahal dia masih perawan. kok bisa yah? tanyaku dalam hati.
Ternyata menurut pengakuannya, dia sering melihat aku menonton BF dan ikut memperhatikan dan itu membuatnya sangat terangsang untuk berhubungan, dan berkeinginan untuk menirukannya pada malam itu.
Keperjakaan akupun hilang seiring hilangnya keperawanan AI aku yang cantik dan langsing. namun tak disesali karena kenikmatan pertama aku sangatlah luarbiasa (menurut aku). di lain haripun kami sering melakukannya disaat rumah ditinggal para penghuni utama.
AGEN CAPSA
BANDAR CAPSA
BINTANG CAPSA
LINK ANTI NAWALA : http://192.169.219.143/
Friday, July 15, 2016
OM GANTENG
MEJA13 - Kisahku kali ini adalah akibat ulah isengku yang sering menggda om om ganteng yang sedang nongkrong dicafe atau lg di resto. Aku melakukan keisenganku ini bersama dengan seorang temanku yang namanya Sella. Owh ya namaku Karin umurku baru 16 tahun dan aku sekolah disalah satu SMA swasta terkenal dijakarta.
Menurut temen-temenku aku memiliki tubuh yang sangat indah, dengan tinggiku 162cm dan berat badanku 55kg dan wajah imut dan hidungku mancung. Aku juga memiliki kulit yang putih mulus dan rambutku yang agak kepirang-pirangan, jadi aku mirip seorang gadis bule. Dan aku memanfaatkan kelebihanku ini dengan keisenganku yang suka menggoda om-om ganteng. Namun yang kali ini godaanku keblabasan sampai akhirnya terjadilah Fantasi Sex sama Om Ganteng.
Pada suatu hari saat aku sedang tidak mood bersekolah, aku mengajak Sella untuk membolos dan akhirnya kita pun membolos. Aku dan sella sebelumnya sudah berjanjian kalau hari itu akan membolos jadi aku sudah menyiapkan pakaian ganti. Dan segeralah aku setelah berganti pakaian meluncur keslah satu pusat perbelanjaan yang ada dikota.
Saat pagi suasana mall masih sepi, ada satu dua glintir anak sekolah yang juga membolos dengan masih mengenakan seragamnya. Aku gak berani memakai seragam karena sering terjadi operasi anak sekolah membolos. Aku dan sella muter-muter gak ada arah sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi kesuatu tempat hiburan.
Tak terasa saking asiknya aku dan sella bermain waktu ternyata sudah sore, aku pun lantas berganti seragam dan berniat untuk pulang kerumah. Tak berapa lama setelah berganti memakai seragam sella mengajakku untuk ke sebuah cafe dan aku pun menyetujinya. Dan setelah berapa lama kita perjalanan akhirnya kita sampai disebuah cafe dan duduklah kita di meja yang paling pojok.
Suasana cafe sore itu gak terlalu ramai, hanya beberapa meja saja yang sudah terisi. Dicafe aku dan sella sempat menggoda pelayan cafe yang lumayan ganteng, namun pelayan cafe tersebut malu-malu dan gak berani menongolkan wajahnya kembali, jadi selesai sudah keisenganku.
Setelah makanan dan minuman kita habis, aku mengajak sella untuk pulang. Namun sella menarik tanganku dan menunjuk kesebuah meja.
“Diiiin…Liat tuuuh ada Om-Om ganteng Karin” ujar sella.
Aku yang tak begitu minat tetap mengajak pulang sella
“Aaahhh…Udah mau malem Niih, pulang yook” ajakku. Namun sella
“Bentar aaahhh godain dulu itu om-om, ganteng halo, coba liat dengan jelas dulu deh Karin” ucap sella.
Dan aku pun duduk kembali dan memandangi om-om tersebut. Dan ternyata benar yang dikatakan oleh sella, om itu memang ganteng sekali. Tinggi, putih, tubuhnya gak terlalu gemuk dan wajahnya tampan sekali. Saat aku memperhatikan om-om itu, tib-tiba om-om itu juga memandangiku dan aku pun langsung memalingkan mukaku karena malu.
Namun si Sella malah menggoda om tersebut dengan mengedipkan matanya dan om-om itupun membalasnya dengan senyum serta tangan melambai seperti meminta kami untuk bergabung.
“Itu om-om minta kita untuk bergabung Karin, gmn??” tanya Sella.
“Aaahhh…enggak aahh, aku malu” jawabku.
Setelah aku gak mau diajak bergabung ke meja om-om itu, Sella terus menggoda om tersebut dan lama-lama timbulah keinginanku untuk ikut menggoda om-om tersebut. Saat om itu memandangiku, aku langsung memberikan kecupan jauh kepadanya dengan maksud jika om itu benar tergoda aku tidak akan melayaninya dan aku akan langsung pulang jika om itu nyamperin aku.
Setelah tak berapa lama, aku pun mengajak Sella untuk pulang dan akhirnya setelah Sella puas menggoda om-om itu Sella mau diajak pulang, namun aku meminta Sella duluan keparkiran karena aku mau ketoilet dulu. dan setelah aku mau keparkiran, aku melewati meja si om-om itu dan Waktu aku lewat mejanya, si bapak nyapa,
“Karin, dah mo pulang ya, Eh namanya Karin ya, tadi temen kamu yang ngasi tau nama kamu. Nama yang cantik secantik orangnya”. Aku memang imut banget, kulit putih bersih, hidung mancung dan bibir tipis yang selalu basah. mataku katanya seksi banget, kalo dipandang sepintas kayak artis popi bunga.
“Iya om, Karin mo pulang, rasanya tadi om berdua deh”. gombal banget deeh niih om.
“Iya temen om dah balik duluan”.
“Wah gak da temennya dong om”.
“Kan ada Karin, mo nemenin om gak”. Aku diem aja, dia malah megang tanganku dan menarik aku sehingga aku terduduk di mejanya.
Agresif banget ni si om.
“Gak usah takut om jinak kok, nama om… (dia nyebutin namanya)” katanya sambil mengulurkan tangannya.
Kujabat tangannya, iseng dia nekuk telunjuknya dan ngilik2 telapak tanganku sembari meremas tanganku.
“Ih, om siang-siang gini dah iseng”.
“Mangnya iseng baru bole malem ya Karin”. Aku senyum ja.
“Dah selesai ya makan2nya, mo makan lagi ma om”.
“Makasi om. Dah kenyang banget.”
“Kamu gak da acara, kita jalan yuk”.
Wah bener kata temenku, pasti mo ngajakin bbs Dia turun dari meja, aku digandengnya. Seneng si digandeng ma om seganteng dia, kami menuju counter kasir dan dia membayar bonnya.
Kemudian aku digandengnya lagi menuju ke mobilnya di pelataran parkir. Dia bukain pintu mobilnya dan aku masuk duduk di kursi penumpang depan. Dia menutup pintu mobilnya pelan dan berjalan menuju pintu satunya, membukanya dan dia duduk disebelahku.
“Pake seatbeltnya Karin, kalo gak ntar kudu nraktir polisi makan siang lagi”.
“Kok nraktir polisi om”.
“Iya kalo kamu gak pake seatbelt trus dibrentiin ma polisi kan om kudu ngasi dia uang”.
“O..nyogok toh maksud om”.
“Iya Karin, biar urusannya gak bertele. Tau kan makenya.” KArena aku sedikit kerimpungan memasangkan kaitan seatbelt ketempatnya, dia membantuku.
Ternyata seatbeltnya membelit di ujungnya, sehingga dia membantu membetulkan belitannya, tangannya dijulurkannya melewati dadaku ketika membetulkan belitannya.
Gak tau sengaja apa enggak, tangannya menggesek toketku, Aku kaget juga ketika toketku kegesek tangannya. Toketku si kecil tapi ada lah, gak rata2 banget kaya anak seumuranku.
“Montok juga kamu”. Ternyata dia sengaja menggesek toketku untuk tau seberapa gedenya.
“Ih si om, siang gini genit”.
“Tapi gak papa kan kalo om genit”. Setelah urusan seatbelt selesai, mobilnya meluncur meninggalkan tempat parkir, menerobos kemacetan rutin.
“Karin mo pulang dulu deh ya om”.
“Lo kok, katanya mo jalan”.
“Iya tuker baju dulu, masak jalan ma om pake seragam gini”.
“O gitu ya, tadinya om pikir kita beli pakean aja buat kamu dulu, baru jalan”.
“Gak usah deh om, rumah Karin gak jauh kok”.
“Ntar sampe rumah gak bole lagi kamu jalan ma om”.
“Dirumah gak da sapa-sapa kok om”.
“Ortunya kemana”.
“kerja dua-duanya, dirumah cuma ada pembantu”.
“Sodaramu”.
“Karin anak tunggal kok om”.
“Wah manja dong ya”.
“Gak lah, tiap hari Karin mandi kok om pagi sore”.
“Kok mandi..” Dia gak ngarti gurauanku.
“Iya om, manja kan artinya mandi jarang”.
“O…” dia tertawa,
“asik juga ngobrol ma kamu”. Mobilnya melaju kerumahku, sesampenya dirumah aku turun dari mobil.
Rumahku jaraknya dari rumah tetangga yang paling deket 50m jauhnya. karena posisi nya lebih deket dengan jalan raya sementara rumah2 disekelilingnya lebih menjorok kedalam.
“Yuk, om turun dulu, masak nunggu di mobil, kan om bukan sopirnya Karin”. Aku membuka pager, trus membuka pintu rumah dengan kunci yang memang aku bawa kemana-mana.
“Masuk om, mo Karin ambilin minum? Karin gerah mo skalian mandi dulu”.
“Gak usah minum deh, kalo mandi si om mo ikutan”.
“Genit ah”. Dia duduk di ruang tamu, aku mengambilkan segelas teh dan menaruh di depannya.
“silahkan di minum om”. “makasih Karin,” jawabnya.
aku duduk dan ngobrol apa aja dari masalah dia sampai urusan pacar segala.
“Mangnya kamu dah punya pacar ya Karin”. Aku cuman ngangguk,
“mang sekarang umur kamu berapa Karin?” Aku menyebut umurku.
“Masi muda sekali ya, mangnya gaya pacaran kamu kaya apa, paling cuma pegangan tangan ya Karin”. Aku gak sadar dia mancing-mancing aku, dalam hati aku ngegerutu, sial dianggep masi SD kali aku.
“kamu pernah di apain aja ama pacar kamu”.
“rahasia dong” “malu ya critanya, masa sama om pakai rahasia-rahasia segala”. aku terpancing dan crita kalo cowokku sering nyium dan juga suka di grepe-grepe.
Dia nguber terus,
“mang apanya yg di cium dan di pegang2 Karin?”
“ih si om kayak gak tau aja, ya bibirlah”.
“lalu yang di pegang2 apanya”.
“yaa…anu…gimana ya”, aku baru sadar kalo aku terpancing sama omongannya.
“Kok gak di lanjutin sih, masa sama om malu gitu sih.”
“Suka di elus elus paha dan diremas remas toket Karin, tapi dari luarnya aja, geli”.
“Asik dong ya”.
“Om, Karin mo mandi dulu ya, risih nih, bau keringat”, kataku mengalihkan pembicaraan.
“ya udah, sana mandi dulu biar wangi”. Aku masuk kamarku, persis dekat dengan tempat si om duduk.
Pintunya cuma aku rapetin aja, gak sampe ngelock, sehingga kalo ada angin bisa kebuka ndiri. Aku pengen tau ja si om responsenya kaya apa. Aku membuka lemari yang menghadap kearah pintu dan mengambil singlet tanpa lengan dan celana pendek, juga bra en cd. Aku melepas kancing baju seragam satu persatu lalu melepaskannya kemudian aku buka ikat pinggang dan resleting rok yang kemudian aku plorotin gitu aja.
Kemudian aku bercermin sambil megang2 toketku, gak lama kemudian aku melepas braku. walaupun toketku belum begitu gede tapi bentuknya bulat kencang dan begitu putih bersih dan putingnya yang berwarna pink belum begitu menonjol paling baru seberas ujung kelingking aja. terakhir aku buka cdku. jembutku belum begitu kelihatan masih samar2. Aku berdiri didepan kaca yang nepel di pintu lemari memandangi tubuhku.
Aku kaget juga ketika pintu kamar terbuka dan si om berdiri disitu. Matanya berbinar-binar memandangi tubuhku yang bugil yang nampak sepenuhnya dari bayangan di kaca di pintu lemari. “Katanya mo mandi Karin, kok jadi mandangin badan ndiri, sexy banget deh kamu, om jadi pengen nih”, katanya sambil nendekat dan memeluk tubuhku dari belakang.
Karena malu tangan kananku menutupi toket dan yang kiri menutupi selangkanganku.
“Dah bugil gitu kok masi malu si”, katanya lagi sambil membelai pinggiran tokedku, kemudian memilin putingku yang mulai mengeras karena ulahnya.
“Ooogghh.. sshh,” rintihku. Tubuhku dibaliknya menghadap dirinya, dia membungkuk dan mulai mengisap putingku sambil jemarinya terus menari-nari di toket kiriku.
Tanganku meremas-remas rambutnya karena napsu mulai melanda diriku. Lidahnya menyapu seluruh permukaan tokedku dan melumat putingku secara bergantian. nafasku menjadi tidak teratur.
Kemudian dia jongkok didepanku dan mulai mencumbui perutku dan terus kebawah ke arah selangkanganku.
“Meki kamu sexy banget Karin”, katanya sambil mengelus bibirmeki ku yang mulai basah.
“Dah napsu ya kamu, ampe basah gini”.
“Om si nakal, aaah”, lenguhku lagi.
Otot mekiku terasa menegang ketika jarinya mulai merenggangkan bibir mekiku. Lalu jari tengahnya mengorek- ngorek klitku.
“Aaahh.. sshh.. mmhh”, desahku untuk kesekian kalinya.
Kemudian dia menjilat klitorisku, lalu menghisapnya kuat-kuat. Uaahh.. rasanya nikmat banget, palagi ketika lidahnya
mulai turun menyusuri daerah bibir mekiku.
Si om kemudian menarik aku ke tempat tidur, aku ditelentangkan di situ kakiku masih menjuntai kelantai. Dia berbaring disebelahku, bibirku dilumatnya. Setelah sepuluh menit kami saling berpagutan, kemudian lidahnya bergerak menuruni leherku sampai bibirnya hinggap di tokedku.
Kembali dia mengemut pentilku yang dah menjadi kencang.
“om.. terus aachh.. ehmm..” desahku keenakan.
Kemudian dia semakin turun dan menghisap pusarku, aku tidak tahan diperlakukan demikian. Eranganku semakin panjang.
“Aaach.. geli aach.. om”. Dia terus menghisap-hisap pusarku lalu turun sampai di mekiku.
Dielusnya jembutku yang halus, kemudian mulai menjilati dan sesekali menghisap klitoris ku. Aku mengangkangkan kakiku supaya dia mudah mengakses daerah selangkanganku.
“Aaacchh.. om terus achh.. enak..”
Aku semakin menggelinjang, tanganku menarik -narik sprei dan beberapa saat kemudian aku menjerit kuat.
“Aaacchh..” Dari mekiku menyembur lendir kenikmatan yang cukup banyak. Sruupp.. langsung dia menghisapnya sampai habis.
“Aaach om.. acchh..” jeritku untuk kesekian kalinya.
Hebat banget si om, cuma dijilatin ja aku bisa nyampe, rasanya lebi nikmat di olah ma si om ketimbang sama cowok ku. Setelah mengalami orgasme yang pertama itu, aku tergeletak di atas ranjang. Dia tetep aja mengutak-utik mekiku. Birahiku kembali bergelora. Nafasku kembali memburu ketika ujung jari telunjuknya masuk ke dalam lipatan bibir mekikuku yang berair kemudian mengelus-elus lipatan dalamnya.
“Hoohh.. om.. enak banget..” rintihku. tokedku yang rasanya telah membengkak dijilatnya kemudian dilumatnya putingku yang sudah sangat keras itu.
Sedangkan telunjuknya terus memilin-milin klitoris ku.
“Aaaghh.. terus.. jilatin om..” Dia berganti menjilati mekiku sedangkan tangannya beralih meremas-remas tokedku yang berwarna kemerahan oleh hisap- hisapannya.
Aku gak tahan diperlakukan seperti itu sampe akhirnya aku nyampe lagi.
“Om nikmat banget deh, cuma dijilat dan dikilik ja Karin dah 2 kali nyampe. Om lebi hebat dari cowok Karin deh”. “Tadi katanya cuma dari luar, gak taunya…” katanya sembari senyum.
Si om melucuti seluruh pakaiannya. Penisnya sudah menegang sangat keras. Perkasa banget kelihatannya.
“Om masukin ya Karin, dah pengen banget nih”. Aku hanya menggangguk.
Dia menelungkup diatas badanku dan mengarahkan kontinya ke bibir mekiku. Walaupun dah pengen banget, si om gak grusa grusu. Pala kontinya digesek2kannya di bibir mekiku dan disodok2kannya pelan ke klitku. Napsuku kembali menggelora.
“Om masukin aja, Karin dah pengen dienjot om”. Dia hanya tersenyum dan tetap aja menggesek2kan palonnya di klitku.
Sampai akhirnya
“Aaaggh!” pekikku saat dia menekan kontinya masuk ke mekiku.
Dikit demi sedikit dia mengenjotkan kontinya pelan sehingga mengebor masuk mekiku sampai akhirnya Blees!! seluruh batangnya menjebol lubang mekiku. Rasa perih bercampur nikmat jadi satu ketika dia mulai mengocok liang mekiku keluar masuk.
“enak banget meki kamu Karin.. seret.. tapi siip..” bisiknya sambil terus memompa mekiku.
Aku mengeluarkan desahan dan rintihan birahi ketika dia mengenyot kedua tokedku gantian. kenikmatan itu aku rasakan dengan mata tertutup dan bibir yang menganga mendesah-desah.
Hingga kemudian aku desakan dari dalem mekiku.
“Aaahh aku mau keluar.. aahh.. sshh.. aahh..” pekikku.
Dia memompa mekiku semakin cepat sambil lidahnya semakin liar menjelajahi tokedku. Akhirnya aahh.., lendir kenikmatanku menghangat basah dan licin menyembur hingga membecek di sekitar selakanganku. Dia terus memompa dengan liar.
“Karin, nanti om keluarin didalem ya, gak papa kan”. Aku cuma mengangguk sambil merasakan kenikmatan yang baru saja melanda tubuhku.
Tiba2 dia menghentikan enjotannya dan mencabut kontinya dari dalam mekiku.
“Kok udahan om, kan om belom keluar, katanya mo dikeluarin didalem”, protesku karena saat itu aku mulai enjoy lagi merasakan enjotannya yang liar.
Aku ditariknya bangun dan disurunya nungging dipinggir ranjang. Dia berdiri dibelakangku dan mengarahkan kontinya ke mekiku yang masi menganga lapar.
“Aaacchh!!” lenguhku ketika dia kembali menusukkan kontinya ke mekiku.
Langsung saja dia mengocok mekiku maju mundur, sambil kedua tangannya dengan gemas meremas-remas toketku dari belakang.
“Aduuh om.. terus.. ah.. nikmat sekali..rasanya Karin dah ingin keluar lagi om, aduuh.. nikmatnya, terus..yang cepat.. om.. aduh Karin nggak tahan ingin keluar..” aku menceracau tak karuan saking nikmatnya.
“Cepet amat Karin, om ja blon ngarasa mo kluar”.
“Nikmatnya banget si om”. beberapa saat kemudian tubuhku menegang dan sur.. suurr lendir kenikmatanku berhamburan membasahi selangkangan kami, kemudian menetes membasahi seprei.
Aku lemes banget jadinya, sampe aku nelungkup dikasur, kontinya tercabut dari mekiku, masi sangat keras dan perkasa.
Dia membiarkan aku nelungkup dikasur untuk memberi kesempatan aku mengiginkan kembali gejolak akibat napsu dan rasa nikmat yang luar biasa.
“Om hebat banget deh, Karin dah berkali-kali nyampe om blon kluar-keluar juga”.
“Nikmat kan Karin?”
“Banget”.
“Mana nikmat ma cowok kamu?”
“Nikmat ma om lah”.
“Gak nyesel dong maen ma om”.
“Gak lah, tuntasin deh om, biar om keluar juga”.
“Bener ni masi sanggup, kayanya Karin dah lemes banget gitu”.
“Harus dong om, Karin dah berkali2 klimax masak om dibiarin ngegantung gini, namanya kan berbagi kenikmatan”.
“Iya deh, ganti posisi lagi ya”.
Dia duduk dikepala ranjangku, lalu aku disurunya duduk di pangkuannya sambil saling berhadapan. digosok2kannya kontinya ke selangkanganku.
“sshhh…uuuhh aku mulai mendesis desis.
Digesekkannya palkonnya sambil menentukan lokasi masuk yang pas, diturunkannya perlahan. terasa kontinya udah masuk sebatas kepala, sedikit demi sedikit menaik turunkan badanku biar ada tekanan dan perlahan kontinya sedikit demi sedikit masuk.
“ssshhh om…”rintihku.
Dia mempercepat ritme goyangannya dan…..bless.. akhirnya kembali kontinya amblas kedalam mekiku.
“argghhhhh….sshhhhh….om”, rintihku. Dia mendiamkannya sejenak sambil menikmati otot otot mekiku , mekiku terasa berdenyut denyut menghisap kontinya, sungguh nikmat rasanya.
dia memelukku dengan erat, sedikit demi sedikit dia mengangkat pinggulku naik turun secara perlahan.
“sshhh ahhh….” kembali aku merintih ketika dia mempercepat goyangan pinggulku naik turun.
Dia mencium dengan mesra bibirku. permainan lidahnya pada rongga mulutku membuat aku semakin agresif berinisiatif untuk goyang naik turun sendiri, sehingga dia mempunyai kesempatan untuk meremas-remas tokedku dengan lembut dan sesekali di pilinnya putingku yang mengeras.
setelah 10 menit gerakanku semakin liar karena aku dah mau nyampe lagi, luar biasa deh si om. jepitan mekiku semakin kencang dan berdenyut denyut membuat dia juga mempercepat sodokan kontinya ke mekiku. kedutan di mekiku tambah kencang, ini membuat aku menjadi semakin liar. Kupeluk dia erat banget, rambutnya kujambak2 dan punggungnya kucakar2 saking nikmatnya.
Dia makin gencar mengenjotkan kontinya kluar masuk dan akhirnya
“sshhh…Karin ..keluaaarrrr…om”, jeritku. “Om juga….sa…sayang…uuuhhh ssshhhh” dan crot…croot….croootttt…terasa semburan maninya di memekku dengan kenikmatan yang tiada tara.
untuk beberapa saat dan berangsur angsur kami mulai merasa lemas. Aku kecapaian bersandar ke badannya. kembali dia menciumku,
“Makasi ya sayang, om blon pernah ngerasain nikmatnya maen ma abg kaya kamu gini. Meki kamu peret banget, kedutannya berasa banget deh. Kapan2 lagi yuk”. Aku cuma menggangguk dan senyum. Kami masi duduk berpangkuan, dia mengelus2 rambutku yang basah karena kringet dan aku nyender ke dadanya. Romantis banget deh, kaya suami istri ja.
“Kita mandiyuk Karin, bis itu kita jalan, kan mo beliin pakean buat kamu. Besok kamu skolah ya”.
“Enggak om, ada rapat guru”.
“Ya udah, bis blanja en makan ketempat om yu, kamu nginep ja dirumah om”.
“Mo ronde kedua ya om”.
“Iyalah, mau kan”. Aku cuma menggangguk, demen banget deh disayang2 gitu, rasanya cowokku gak seromantis si om.
Kebayang ntar malem dirumahnya, pasti aku dikerjain abis2an ma si om.
AGEN CAPSA
BANDAR CAPSA
BINTANG CAPSA
LINK ANTI NAWALA : http://192.169.219.143/
Thursday, July 7, 2016
Risna Member Baru Group Sex Ku
MEJA13 - Boy dan Dina pun telah tiba di sekolahnya, Berbarengan dengan Alex yg membawa penumpang ABG cantik. Setelah mobil Alex terpakir, Risna segera keluar dari mobil Alex, dan matanya sempat melihat Boy yg mencium kening Dina.
Setelah mendapat ciuman Boy, Dina lalu turun berjalan masuk ke gedung sekolahnya, dan di susul oleh Risna. Risna berjalan cepat,
“Din… Dina.. tunggu“ begitu katanya.
Dina menoleh
“eh, gua gak mau ribut sama loe..” kata Dina.
“eh bukan.. bukan begitu, gua cuma mau minta maaf..” kata Risna.
Langkah Dina terhenti
“maksud loe“. “gua, eh gua cuma mau berteman ama loe“ kata Risna.
“sejak gua di sekolah ini, gua juga sudah menganggap loe teman gua koq..” balas Dina.
Mereka pun berjalan beriring menuju kelas mereka.
“Boy, masa sih loe gak cobain m-e-m-e-k si Dina?
“tanya Alex. Boy hanya diam saja.
“gile loe, udah tidur di ranjang loe, masih gak loe e-n-t-o-t, kenapa loe impotent yah“ kata Alex.
Boy cuma tersenyum saja, yg membuat Alex semakin penasaran.
“terus loe apain ajah, tuh anak?“ tanya Alex lagi.
“udeh, loe sama si Risna udah sampe mana?“ tanya Boy.
“he he he, belom apa apa, cuma gua udah tahu, m-e-m-e-k nya masih botak, dan becek banget“ kata Alex dengan bangga.
“bullshit…“ kata Boy.
“ha ha ha, paling lama 2 kali 24 jam lagi, gua udah e-n-t-o-t-i-n tuh anak..” kata Alex lagi.
Suara menderu mobil Celica Tommy terdengar, berjalan pelan pelan menuju tempat parkir. Wajah Tommy terlihat tegang, dia melewati Boy dan Alex begitu saja.
“kenapa tuh anak yah, dari kemarin lagunya begitu“ tanya Alex.
“gua juga gak ngerti..” jawab Boy.
Setelah mematikan mesin mobilnya, Tommy lalu segera turun dan berjalan masuk. Alex segera menyusulnya di ikuti Boy.
“Tommy, loe kenapa sih, dari kemarin tampang loe kusut begitu?“ tanya Alex.
“bukan urusan loe“ jawab Tommy .
“eh, kita betiga, itu sudah sepakat, saling membantu, saling berbagi, urusan loe jadi urusan gua juga“ kata Alex.
“loe tanya tuh sama dia“ kata Tommy menunjuk hidung Boy .
Tommy pun terus berjalan. Alex menghentikan langkahnya
“Boy, apa kabar?“ kata Alex.
Boy berjalan menuju bangku taman, di halaman sekolahnya. Dia duduk dan menceritakan dari awal. Alex yg mendengar menghela nafas.
“gua udah bilang, dari pertama, jangan melibatkan perasaan kalo mau main ini
“kata Alex. Boy pun diam saja.
“loe juga Boy, ngapain lagi, loe berebut sama Tommy, leo bisa pake si Rini atau Sisca, bego juga loe..” kata Alex lagi.
“Tommy, gak fair Lex, kalau dia suka sama Dina, go ahead, gua gak akan larang, tapi jangan si Dina di bikin sakit hati, gua gak terima“ kata Boy.
“loh, apa urusannya sama loe, biar aja, toh si Dina memang rela jadi perek kita, konsekuensinya yah itu“ kata Alex.
“Lex, gua ini bejat, tapi gua manusia, gua juga punya perasaan“ kata Boy.
“mati gua, loe juga cinta sama si Dina?“ kata Alex.
“engak, gua cuma, sayang sama dia“ kata Boy enteng, lalu berjalan masuk ke kelasnya.
Hari itu , Tommy terlihat begitu tegang, dia hanya duduk di kelas. Tak ke tempat pak Karta, tak ke ruang rahasianya. Perasaan Alex dan Boy pun gundah. Bahkan Rini dan Sisca tak berani menegurnya.
Saat istirahat, Alex asik bersenda gurau dengan Risna. Alex telah membuktikan dirinya memang patut mendapat acungan jempol. Belum satu minggu Risna sudah jatuh ke pelukkannya.
Sedang Rini, Sisca dan Dina, mereka bersama sama, makan di kantin. Boy pun hadir menemanni mereka. “gua heran, kenapa Tommy bisa kepincut sama loe, padahal gua lebih cantik“ kata Sisca.
“uewwek, gua mau muntah nih“ kata Rini.
“sebenarnya, ini bukan masalah cantik atau jelek, tapi masalah perasaan“ kata Boy.
Mata ke tiga ABG itu menetap Boy.
“maksud loe?“ tanyaa Sisca.
“Tommy, suka sama Dina, tapi tak berani mengakuinya, dia tak rela kalau Dina main dengan orang lain selain dirinya“ kata Boy.
“terus loe suka juga sama Dina kan?“ kata Sisca.
“yah gua suka sama Dina, tapi gua juga suka sama loe, suka sama Rini“ kata Boy.
Mereka diam.
“gua gak larang kalau loe pada mau main sama siapa, yg penting enjoy aja.” kata Boy lagi.
“Dina, gua mau ngomong sama loe“ kata Tommy yg tiba tiba ada di sana.
“mau omong apa?“ kata Dina.
Tommy memegang tangan Dina, dan membawanya dari sana.
“Dina sebenarnya mau loe apa sih?“ kata Tommy.
Dina mengerutkan Dahinya
“mau juga, gua yg nanya sama loe, loe maunya apa?“. Tommy terdiam.
“gua gak boleh punya perasaan suka sama loe, ok fine gua bisa menerimanya, artinya gua juga bebas, tapi kenapa loe mesti marah gua pergi sama Boy.” .kata Dina.
“gua minta leo, main sama gua aja, gak boleh sama orang lain, gua bayar loe minta berapa“ kata Tommy.
Dina tersenyum ,
“loe tahu ngak, semalam gua di kasih berapa sama Boy..?“ Boy diam tak berkata kata.
“loe jangan egois Tom, eloe mau badan gua buat loe sendiri, gua juga minta badan loe buat gua aja, jangan n-g-e-n-t-o-t sama cewek lain kalau leo setuju, ok gua turuti kemauan leo , kalau gak forget it“ kata Dina.
Tommy tak dapat berkata kata .
“it’s ok, sayang, kalau eloe mau n-g-e-n-t-o-t sama gua besok malam yah, sebab entar malam Boy udah booking gua..” kata Dina sambil mengelus selangkangan Tommy.
Tommy hanya berdiri terpaku ,
“oh iyah, gua udah belajar dari loe, gua udah gak ada perasaan apa apa sama loe“ kata Dina lagi, dan berjalan meninggalkan Tommy.
Pulang sekolah, tampak Alex dan Risna berjalan bersamaan, wajah ke dua ABG ini begitu ceria. Risna, menegur sapa, setiap temannya, memamerkan gebetannya yg tidak tanggung tanggung. Dengan senyum bangga Risna masuk ke Supra merah Alex.
Mobil itu pun berjalan , pelan ke luar gedung sekolah itu , terdengar raung keras mobil itu , menjauh dari gedung sekolah .
“Boy, gua pinjem Dina sebentar“ kata Tommy .
“gila loe, pake bilang pinjem, loe itu teman gua, kita saling bagi Tom, kalau loe mau silakan saja“ kata Boy.
Tommy tersenyum .
“tapi gua terus terang bilang sama loe, gua suka sama si Dina, jadi gua minta kalau dia gak mau, jangan loe paksa“ kata Boy lagi.
Mereka pun tiba di tempat parkir mobilnya,
“Dina, loe gua antar pulang yah“ kata Tommy.
Dina tersenyum,
“besok aja yah sayang, kan gua udah bilang malam ini gua sama Boy..
“kata Dina, dan masuk ke dalam mobil Boy.
Mobil Alex pun terus melaju, kepala Risna bersandar di bahu Alex.
“Risna, kita ke hotel yuk“ kata Alex.
“ihh, ngapain…” kata Risna.
“yah supaya kita bisa lebih asik“ kata Alex.
Risna diam tak menjawab, yg di artikan Alex tanda setuju.
Setelah Risna berada di kamar hotel mewah itu, Alex melumat bibir Risna. Dan Risna pun membalasnya dengan penuh nafsu. Mereka brcumbu dengan liar. Tangan Alex tak sungkan lagi menyelinap masuk ke dada Risna memainkan buah dadanya yg masih tertutup bra coklatnya.
Desah Risna terdengar semakin jelas. Perlahan baju seragamnya lepas dari tubuhnya, begitu pula dengan branya. Kini jelas terlihat buah dada Risna yg bulat kencang dengan putting susunya yg kecil menonjol keluar. Santapan nikmat bagi lidah Alex. Risna mendesah, dengan tubuh yg mengelinjang.
Tangan dan lidah Alex, bermain dengan nakal, terus menerus membuat Risna terhanyut dalam birahi. Tangan Alex, mulai menyingkap rok abu abunya, merabai selangkangan celana dalam coklatnya. Alex bisa merasakan lembab di celana dalam Risna.
Risna menahan tangan Alex.
“Alex, kalau kamu punya pacar yg sudah gak virgin, apa kamu masih mau sama dia?“ Dahi Alex mengerut.
“shit, gua buang buang waktu, susah susah merayu dapet barang bekas“ maki Alex dalam hati.
“Alex koq diam“ kata Risna lagi.
“aku tidak diam, sayang, aku tak pernah peduli soal itu“ kata Alex yg jarinya mengesek selangkangan celana dalam Risna.
“Sungguh Alex“ kata Risna lagi.
Alex mengangguk. Risna mencium bibir Alex lagi. Makin tampak jelas, di selangkangan celana dalam Risna, bercak basahnya makin meluas.
Alex pun mulai melepas rok abu abu Risna, begitu juga dengan celana dalam Risna. Bukit kemaluannya gundul, dengan bibir memeknya tebal. Jari Alex membuka belahan bukit memeknya, memainkan klitoris Risna dengan jarinya. Lendir nikmat Risna mengalir terus. Liangnya sudah siap untuk penetrasi.
“ahh Alex, aku gak tahan…“ rintih nikmat Risna.
Lidah Alex pun menjilati klitoris Risna yg membesar karena birahinya. Jari Alex juga memainkan liangnya. Birahi Risna makin membumbung tinggi. Dan terus tinggi hingga dia mengejang.
“ahhh, Alex gua keluarr“ jerit Risna.
Risna pun menciumi bibir Alex dengan penuh nafsu
“Alex, aku sayang kamu“. Tangan Risna melepas resleting celana Alex.
Mengeluarkan isinya dari dalam kolor hitam Alex. Risna bukan gadis lugu, dia sudah tahu cara membuat cowok bahagia. K0ntol Alex di jilatinya, membuat Alex mengeram kenikmatan.
K0ntol itu juga di kulum Risna penuh nafsu. Dengan memegang kepalanya Alek bergoyang mengeluar masukkan k0ntolnya. Alex terus mengeram, dan akhirnya k0ntolnya tumbang, dengan melepas cairan birahinya, kedalam mulut Risna.
Alex terkapar lemas. Risna pun menciumi bibir Alex, sambil tangannya mengelus elus batang k0ntol Alex. K0ntol itu pun lambat laun menghargai jerih payah Risna. K0ntol itu membesar kembali. Risna kemudian mengambil posisi menungging, dan melebarkan kakinya. Memeknya tampak menawan dari belakang. Dengan liang memek terbuka, basah siap di buahi.
Alex pun bersiap, mengambil ancang ancang.
“awhh“ jerit Risna, ketika Alex mendorong masuk batang k0ntolnya.
K0ntol itu mulai bergerak keluar masuk, menyebabkan Risna mengerang nikmat. Sambil mengelus elus punggung Risna yg mulus, k0ntolnya terus bergerak maju mundur.
“ohh, Alex, terus enak..” erang Risna, menikmati gesekkan k0ntol Alex.
Cukup lama mereka saling memuaskan dirinya, sampai Risna mengejang, dan ambruk terbaring tengkurap di atas ranjang hotel mewah itu. K0ntol Alex tampak masih mengacung, dia tak memberikaan waktu untuk rehat.
K0ntolnya terus mendesak liang memek Risna. walau posisi Risna tengkurap. Risna mengelijing dalam tindihan tubuh Alex. Alex sekarang harus memuaskan dirinya. Dia bergerak cepat, membuat Risna semakin kelojotan. Tak lama k0ntol Alex pun terpuaskan dengan menyembur spermanya, membasahi liang memek Risna.
Mereka terbaring lemas, dengan kepuasan birahi mereka msing masing.
“ha ha ha, jadi loe susah susah ngebombal, cuma dapet m-e-m-e-k udah dobol“ kata Boy.
“berengsek, loh“ kata Alex meninju pundak Boy.
Lalu mereka berjalan masuk ke gedung sekolahnya.
“eh kenapa loe girang banget“ kata Tommy yg bertemu mereka di taman.
“ha ha ha, ada playboy salah sasaran“ kata Boy.
“kenapa sih“ tanya Tommy penasaran.
Boy menceritakan, dan Tommy pun tertawa terbahak bahak.
“Boy, loe ngapain aja sama si Dina semalam?“ tanya Tommy.
“ah gak ngapain, cuma bobo doang“ kata Boy.
“eh, yg bener loe, loe e-n-t-o-t yah“ tanya Tommy penasaran.
“kagak, sumpah bener cuma bobo“ kata Boy.
Tommy cuma diam.
“Tom, loe percaya aja deh, si Boy itu kan b-a-n-g-s-a-t yg baik hati ha ha ha“ kata Alex tertawa tawa.
Mereka pun berjalan memasuki gedung sekolah itu.
Hari itu adalah hari Jum’at, yg berarti week end, karena hari Sabtu mereka Libur. Boy memprakarsai untuk pergi ke puncak bersama sama. Maksud Boy di terima baik oleh Tommy dan Alex. Alex pun mengizinkan Villa besar dan mewahnya di pinjam untuk bersenang senang.
Boy meminta Alex mengajak Risna.
“ok, gua tahu loe juga mo coba m-e-m-e-knya kan“ kata Alex.
Akhirnya semua ok.
Mereka bersiap, tengah hari Sabtu itu mereka berangkat. Tommy, membawa Dina, dengan mobil nya. Sedangkan Boy bersama Rini dan Sisca. Boy terpaksa berangkat dengan mobil Rini, karena mobil sportnya hanya memiliki dua kursi.
Sedang Alex akan menyusul, karena harus menjemput Risna, dan menunggunya bersiap siap sebentar. Risna berbohong pada orang tuanya, pergi berdarmawisata bersama sekolahnya.
Akhirnya mobil Alex berangkat juga. Alex lebih lambat satu setengah jam dari kawan kawannya. Alexpun membawa Risna masuk ke villanya.
Mereka terus berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Dari pintu kamar yg terbuka sedikit, terdengar suara erangan erotis. Alex membawa Risna masuk ke dalam kamar itu. Risna sangat terkejut. Di kamar itu tampak Boy sedang mengoyg Rini dari belakang, dan Tommy menindih Sisca yg terus mengerang nikmat.
Sedang Dina, berdiri, dengan stopwacth di tangannya.
“eh, ngapain loe Dina?“ tanya Alex.
“tuh, Tommy dan Boy lagi adu lama“ kata Dina.
“ha ha ha, pada gila kali yah n-g-e-t-o-t aja di adu“ kata Alex.
Dina pun tertawa.
“iyah bagus juga, yg paling bertahan, gua kasih hadiah, boleh n-g-e-t-o-t-in si Risna“ kata Alex.
Risna mulai merasa tak enak, dia hendak keluar dari ruang itu. Tapi Alex memeluknya dari belakang.
“mo kemana sayang“ kata Alex.
“Lex, apa apaan sih nih“ kata Risna
“Ini namanya sex party“ kata Alex sambil menciumi leher Risna.
Risna mengeliat.
“loe tenang aja“ kata Alex yg terus merabai dada Risna.
“Lex jangan begini, dong“ kata Risna. “loe tenang, loe belum terbiasa dengan pergaulan gua orang, tenang lama lama loe juga biasa koq“ kata Alex yg terus merabai dadanya yg masih terbungkus t-shirt pinknya.
Tangan Alex tak segan mengangkat rok mini nya ke atas hingga celana dalam putih Risna terlihat jelas. Risna meronta
“Alex, jangan saya malu“ katanya.
“Ahhh.. shit gua gak tahan….” jerit Tommy, melepas spermanya.
Tommy tampak terkulai.
Sedang Boy terlihat masih santai, dan terus menggoyang Rini, yg sudah berganti posisi. Kini Rini terlentang, dan Boy terus mengoyangnya sambil mencium bibir Rini.
“ohh gila Boy, gua udah gak kuat nih“ erang Rini.
“Lihat tuh, si Boy hebatkan, loe mesti coba k-o-n-t-o-l nya Ris“ kata Alex, sambil meraba selangkangan celana dalam Risna.
“Alex, jangan begini please..” kata Risna.
Boy pun sudah di ambang ke puncak kepuasannya, dia melenguh
“ohhh gila, enak.. gua keluarrr“ Boy pun terbaring lemas.
Dina menghapiri Boy,
“hebat, loe memang hebat“ kata Dina, sambil mencium bibir Boy.
Tangan Dina mengelus elus k0ntol Boy, udah lemes yah, masih bisa gak, m-e-m-e-k gua juga mau nih..” katanya mengoda Boy.
Boy pun menarik tangan Dina, dan melumat bibirnya.
Semua ini tak luput dari pandangan Risna, yg masih terbengong bengong melihat mereka. Sesaat kemudian Sisca dan Rini segera ke kamar mandi.
Alex berkata
“Risna, begina lah kehidupan sex kita orang sehari hari, bebas saja, mau n-g-e-n-t-o-t sama siapa saja silakan, asikkan“ .
“oh yah, tapi engak boleh ada cinta cinta an, love no, sex yes“ kata Dina, sambil menatap Tommy.
Tommy tak bisa berkata kata. Risna meronta,
“loe semua, orang gila“ kata Risna.
Alex melepaskan tubuh Risna yg meronta. Dia menghapiri Dina. mencium bibir Dina dengan mesra.
“jadi, loe yg selama ini, bikin teman gua patah hati yah..” bisik Alex.
Alex menarik tubuh Dina, membawanya ke sofa. Alex duduk di sofa itu, dan memangku Dina. Dia membuka lebar kaki Dina yg duduk di pangkuannya.
Tangan Alex meraba raba, selangkangan Dina, yg sudah basah itu.
“ohh… Alex“ erang Dina.
Risna berdiri terpaku melihat Alex yg di anggapnya pacar, mencumbu gadis lain di hadapannya.
“ohh, Alex, aku cinta padamu“ kata Dina, seperti sengaja mengejek Risna.
“eh jangan tegang gitu, santai aja“ kata Rini yg baru keluar dari kamar mandi.
Sisca dan Rini pun duduk di pinggir ranjang menyaksikan Alex bermain dengan Dina.
“Alex, mainkan dong“ kata Sisca.
Dina pun mendesah desah kenikmatan, ketika jari jari Alex menyelinap di balik celana dalamnya. Jari itu bergetar, memberi Dina sensasi nikmat.
“Ohh, e-n-t-o-t-in gua dong, gua udah gak tahan nih“ kata Dina.
Alex pun melepas celana dalam Dina, dan Dina mengambil posisi menungging di atas sofa kulit itu. Sebelum melakukan penetrasi Alex menjilati memek Dina.
“ohh enak.. Alex.. ohh udah.. e-n-t-o-t-in aja“ pinta Dina yg sudah tak tahan lagi.
K0ntol Alex pun mulai mendorong, masuk ke dalam tubuh Dina. Ada perasaan geram di hati Risna. Tommy mendekati Risna
“udah, loe jangan tegang gitu, ayo sini, duduk“ kata Tommy, menarik tangan Risna.
Akhirnya Risna pun duduk di sebelah Tommy.
“angep aja nonton BF“ kata Tommy lagi. Wajah Risna masih tampak tegang.
“ohh, terus Lex, bikin gua keluar dong.. gua udah mau nih“ erang Dina menikmati sensasi yg di berikan Alex.
Alex pun terus mengoyang tubuh Dina. Dan Akhirnya Dina mengerang “gua keluarrr…“ erang Dina.
Alex masih mengoyang untuk beberapa saat, sampai spermanya muncrat dalam memek Dina. Alex terduduk lemas di sofa itu, dan Dina duduk bersender di dada Alex.
“enak mana m-e-m-e-k gua apa m-e-m-e-k dia“ kata Dina.
Alex mencium bibir Dina, “m-e-m-e-k eloe lebih enak, pantes, Tommy tergila gila sama loe“ jawab Alex.
Muka Tommy memerah.
“Risna eloe mau gak main sama gua, gua yakin m-e-m-e-k loe lebih enak“ kata Tommy.
Risna tak menjawab dia hanya melongo saja. Saat itu bibir Tommy mendekat, dan mencium bibir Risna. Risna pasrah, dan balas melumat bibir Tommy.
Tangan nakal Tommy pun bermain di dadanya, meremas lembut buah dada Risna. Matanya terpejam, untuk menutupi rasa malunya. Tommy segera melucuti pakaian Risna, satu persatu lepas dari tubuhnya. Lidah Tommy pun menjilati buah dadanya, dan terus memainkan putting susunya.
Risna semakin birahi. Memeknya makin basah. Saat jari jari Tommy meluncur ke dalam celananya Risna mendesah pelan
“ahh….ashh“ Jari Tommy membelah bibir memeknya yg tebal, dan memainkan klitorisnya.
Desah Risna makin jelas.
Saatnya Tommy melepas celana dalam Risna, dan memandang memeknya. Memeknya dengan model bibir memek yg tebal, sehingga menutupi liang memeknya dan klitorisnya. Jari jari Tommy harus membelah bibir memeknya untuk menemukan klitorisnya yg tersembunyi.
“ahhhh…“ jerit nikmat Risna, ketika lidah Tommy menjilati klitorisnya.
Lidah Tommy bermain dan jari jarinya juga menusuk nusuk liang memeknya. Tubuh Risna mengelijing nikmat.
“ahhh.. enakk.. gua…mau.. mau keluar nih“ erang Risna yg mulai lupa diri.
Tommy terus membawanya menuju puncak nikmatnya. Risna mengejang orgasme.
Kini gilaran Risna harus memuaskan Tommy dengan mulutnya. Rini dan Sisca bertepuk tangan saat K0ntol Tommy masuk ke mulut Risna. Saat itu Risna sudah tak bisa menolak, dia pun mengoral k0ntol Tommy dengan nafsu. Tommy pun mengerang kenikmatan.
Terus mengoyang k0ntolnya di mulut Risna. Maju dan mundur, sampai spermanya membanjiri mulut Risna.
Tommy tampak terengah engah. Perlu waktu beberapa saat untuk k0ntolnya bangkit kembali. Boy pun mendekati tubuh Risna. Dan dia melebarkan kaki Risna. Risna sedikit meronta. Jari jari Boy segera menguak bibir memek Risna, dan menjilati klitorisnya.
Kembali tubuh Risna mengejang kenimatan. Dia mendesah desah
“ohh ….ahhhh..ahhh“ Boy terus memberi Risna kenikmatan.
Lidah Boy terus mengelitik memek Risna hingga Risna mencapai puncak kenikmatannya.
K0ntol Tommy pun bangkit, dan mulai mendesah memek Sisca.
“Awww…. Ahhh“ jerit Risna saat tubuhnya menerima k0ntol Tommy.
Tommy pun terus bergerak, mengoyang tubuh Risna. Tommy benar benar menikmati ABG yg belum pernah di coba sebelumnya.
Boy pun tak mau ketinggalan, mendorong k0ntolnya ke mulut Risna. Risna menerimanya. Tubuhnya di nikmati dua cowok sekaligus. Mereka terus bergoyang, mencari puncak kenikmatan mereka.
Tommy akhirnya melepas spermanya di dalam tubuh Risna, dan menyusul Boy yg menyiram mulut Risna dengan spermanya.
Mereka terengah engah ke lelelahan.
Risna akhirnya bisa mengikuti permainan mereka. Dan di nobatkan menjadi member mereka. Malam harinya mereka makan dengan ceria.
Mereka bercanda dan begurau. Tak ada rasa dendam dan marah. Dina dan Risna juga tak lagi saling mengejek. Tapi Boy, Tommy dan Dina, masing masing, masih saling berperasaan satu sama lain.
Dina, entah apa yg di miliki dirinya, sehingga bisa membuat Tommy tergila gila padanya, dan membuat Boy suka padanya. Dina diam diam masih mencintai Tommy. Sebenarnya Tommy pun mencintai Dina, tapi entah apa yg ada dalam hatinya.
Malam itu mereka tertidur dengan membawa minpinya masing masing.
Dari atas jendela kamar, Tommy menatap dengan wajah emosi. Di kolam renang itu dia melihat Boy memeluk tubuh Dina dengan mesra. Mereka pun terlihat berciuman dengan mesra. Lalu berenang dengan santai, saling bermain di air yg dingin itu.
“Tommy, kalau memang loe suka sama si Dina, kenapa ngak bilang terus terang saja“ kata Rini yg berdiri di sampingnya. “ah eh, maksud eloe apa“ kata Tommy.
“Tom, buat apa sih loe ngebohongin diri loe sendiri“ kata Rini lagi.
“si Dina memang cinta sama loe, kenapa loe gak terima saja cintanya“ kata Rini.
“loe tahu kan gaya bergaul kita orang“ kata Tommy.
“terserah leo deh, tapi kalau gua jadi loe gua akan menjadikan Dina pacar gua“ kata Rini.
“terus gua gak bisa lagi n-g-e-n-t-o-t sama leo dong“ jawab Tommy.
“oh itu tergantung loe sama Dina“ jawab Rini.
“maksud loe“ kata Tommy binggung.
“yah, kalau Dina kasih loe main sama cewek lain, dan loe juga kasih dia main sama cowok lain, kan tetap bebas, tapi loe tetap pacaran sama dia“ kata Rini membeDinan sarannya.
“gua ngak ngerti, buat apa gua pacaran kalo gitu“ kata Tommy.
“yah udah, buat apa lagi, loe kesel liat si Dina ciuman mesra, tuh“ kata Rini sambil menunjuk ke bawah, di mana si Dina dan Boy sedang asik berciuman.
Tommy hanya bisa menyaksikan semua itu, dengan hati gundah.
AGEN CAPSA
BANDAR CAPSA
BINTANG CAPSA
LINK ANTI NAWALA : http://192.169.219.143/
Monday, July 4, 2016
Ketiga Perawan Gadis Yang Sebelumnya Hanya Kubayangkan, Akhirnya Bisa Kunikmati
Hanya saja kalau nafsu sudah tidak bisa ditahan, biasanya kami melakukan oral seks. Dian memiliki dua orang adik perempuan yang cantik. Adiknya yang pertama, namanya Elsa, juga mempunyai kulit yang putih mulus. Namun payudara nya jauh lebih besar daripada kakaknya. Menurut kakaknya, ukurannya 36B.
Inilah yang selalu menjadi perhatianku kalau aku sedang ngapel ke rumah Dian. Payudara nya yang berayun-ayun kalau sedang berjalan, membuat penisku berdiri tegak karena membayangkan betapa enaknya memegang payudara nya. Sedangkan adiknya yang kedua masih kelas 2 SMP. Namanya Agnes. Tidak seperti kedua kakaknya, kulitnya berwarna sawo matang.
Tubuhnya semampai seperti seorang model cat walk. Payudara nya baru tumbuh. Sehingga kalau memakai baju yang ketat, hanya terlihat tonjolan kecil dengan puting yang mencuat. Walaupun begitu, gerak-geriknya sangat sensual.
Pada suatu hari, saat di rumah Dian sedang tidak ada orang, aku datang ke rumahnya. Wah, pikiranku langsung terbang ke mana-mana. Apalagi Dian mengenakan daster dengan potongan dada yang rendah berwarna hijau muda sehingga terlihat kontras dengan kulitnya. Kebetulan saat itu aku membawa VCD yang baru saja kubeli. Maksudku ingin kutonton berdua dengan Dian.
Baru saja hendak kupencet tombol play, tiba-tiba Dian menyodorkan sebuah VCD porno. “Hei, dapat darimana sayang?” tanyaku sedikit terkejut. “Dari teman. Tadi dia titip ke Dian karena takut ketahuan ibunya”, katanya sambil duduk di pangkuanku. “Nonton ini aja ya sayang. Dian kan belum pernah nonton yang kayak gini, ya?” pintanya sedikit memaksa.
“Oke, terserah kamu”, jawabku sambil menyalakan TV. Beberapa menit kemudian, kami terpaku pada adegan panas demi adegan panas yang ditampilkan. Tanpa terasa penisku mengeras. Menusuk-nusuk pantat Dian yang duduk di pangkuanku. Dian pun memandang ke arahku sambil tersenyum.
Rupanya dia juga merasakan. “Ehm, kamu udah terangsang ya sayang?” tanyanya sambil mendesah dan kemudian mengulum telingaku. Aku hanya bisa tersenyum kegelian. Lalu tanpa basa-basi kuraih bibirnya yang merah dan langsung kucium, kujilat dengan penuh nafsu.
Jari-jemari Dian yang mungil mengelus-elus penisku yang semakin mengeras. Lalu beberapa saat kemudian, tanpa kami sadari ternyata kami sudah telanjang bulat. Segera saja Dian kugendong menuju kamarnya. Di kamarnya yang nyaman kami mulai melakukan foreplay. Kuremas payudara nya yang kiri. Sedangkan yang kanan kukulum putingnya yang mengeras.
Kurasakan payudara nya semakin mengeras dan kenyal. Kuganti posisi. Sekarang lidahku liar menjilati vaginanya yang basah. Kuraih klitorisnya, dan kugigit dengan lembut. “Aahh… ahh… sa.. sayang, Dian udah nggak kuat… emh… ahh… Dian udah mau keluar… aackh… ahh… ahh!” Kurasakan ada cairan hangat yang membasahi mukaku.
Setelah itu, kudekatkan penisku ke arah mulutnya. Tangan Dian meremas batangku sambil mengocoknya dengan perlahan, sedangkan lidahnya memainkan buah pelirku sambil sesekali mengulumnya. Setelah puas bermain dengan buah pelirku, Dian mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Mulutnya yang mungil tidak muat saat penisku masuk seluruhnya.
Tapi kuakui sedotannya memang nikmat sekali. Sambil terus mengulum dan mengocok batang penisku, Dian memainkan puting susuku. Sehingga membuatku hampir ejakulasi di mulutnya.
Untung masih dapat kutahan. Aku tidak mau keluar dulu sebelum merasakan penisku masuk ke dalam vaginanya yang masih perawan itu.
Saat sedang hot-hotnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku dan Dian terkejut bukan main. Ternyata yang datang adalah kedua adiknya. Keduanya spontan berteriak kaget. “Kak Dian, apa-apan sih?
Gimana kalau ketahuan Mama?” teriak Agnes.
Sedangkan Elsa hanya menunduk malu. Aku dan Dian saling berpandangan. Kemudian aku bergerak mendekati Agnes. Melihatku yang telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak, membuat Agnes berteriak tertahan sambil menutup matanya. “Iih… Kakak!” jeritnya. “Itunya berdiri!” katanya lagi sambil menunjuk penisku.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya. Setelah dekat, kurangkul dia sambil berkata, “Agnes, Kakak sama Kak Dian kan nggak ngapa-ngapain. Kita kan lagi pacaran. Yang namanya orang pacaran ya… kayak begini ini. Nanti kalo Agnes dapet pacar, pasti ngelakuin yang kayak begini juga.
Agnes udah bisa apa belum?” tanyaku sambil mengelus pipinya yang halus. Agnes menggeleng perlahan. “Mau nggak Kakak ajarin?” tanyaku lagi. Kali ini sambil meremas pantatnya yang padat. “Mmh, Agnes malu ah Kak”, desahnya. “Kenapa musti malu? Agnes suka nggak sama Kakak?” kataku sambil menciumi belakang lehernya yang ditumbuhi rambut halus.
“Ahh, i.. iya. Agnes udah lama suka ama Kakak. Tapinya nggak enak sama Kak Dian”, jawabnya sambil memejamkan mata. Tampaknya Agnes menikmati ciumanku di lehernya. Setelah puas menciumi leher Agnes, aku beralih ke Elsa.
“Kalo Elsa gimana? Suka nggak ama Kakak?” Elsa mengangguk sambil kepalanya masih tertunduk. “Ya udah. Kalo gitu tunggu apa lagi”, kataku sambil menggandeng keduanya ke arah tempat tidur. Elsa duduk di pinggiran tempat tidur sambil kusuruh untuk mengulum penisku. Pertamanya sih dia nggak mau, tapi setelah kurayu sambil kuraba payudara nya yang besar itu, Elsa mau juga.
Bahkan setelah beberapa kali memasukkan penisku ke dalam mulutnya, Elsa tampaknya sangat menikmati tugasnya itu. Sementara Elsa sedang memainkan penisku, aku mulai merayu Agnes. “Agnes, bajunya Kakak buka ya?” pintaku sedikit memaksa sambil mulai membuka kancing baju sekolahnya.
Lalu kulanjutkan dengan membuka roknya. Ketika roknya jatuh ke lantai, terlihat CD-nya sudah mulai basah. Segera saja kulumat bibirnya dengan bibirku. Lidahku bergerak-gerak menjilati lidahnya. Agnes pun kemudian melakukan hal yang sama.
Sambil tetap menciumi bibirnya, tanganku bermaksud membuka BH-nya. Tapi segera ditepiskannya tanganku. “Jangan Kak, malu. Dada Agnes kan kecil”, katanya sambil menutupi dadanya dengan tangannya. Dengan tersenyum kuajak dia menuju ke kaca yang ada di meja rias. Kusuruh dia berkaca.
Sementara aku ada di belakangnya. “Dibuka dulu ya!” kataku membuka kancing BH-nya sambil menciumi lehernya. Setelah BH-nya kujatuhkan ke lantai, payudara nya kuremas perlahan sambil memainkan putingnya yang berwarna coklat muda dan sudah mengeras itu. “Nah, kamu lihat sendiri kan. Biar dada kamu kecil, tapi kan bentuknya bagus.
Lagian kamu kan emang masih kecil, wajar aja kalo dada kamu kecil. Nanti kalo udah gede, dada kamu pasti ikutan gede juga”, kataku sambil mengusapkan penisku ke belahan pantatnya. Agnes mendesah keenakan. Kepalanya bersandar ke dadaku. Tangannya terkulai lemas.
Hanya nafasnya saja yang kudengar makin memburu. Segera kugendong dia menuju ke tempat tidur. Kutidurkan dan kupelorotkan CD-nya. Bulu kemaluannya masih sangat jarang. Menyerupai bulu halus yang tumbuh di tangannya. Kulebarkan kakinya agar mudah menuju ke vaginanya.
Kucium dengan lembut sambil sesekali kujilat klitorisnya. Sementara Elsa kusuruh untuk meremas-remas payudara nya adiknya itu. “Aahh… ach… ge… geli Kak. Tapi nikmat sekali, aahh terus Kak. Jangan berhenti. Mmh… aahh… ahh.” Setelah puas dengan vagina Agnes.
Aku menarik Elsa menjauh sedikit dari tempat tidur. Dian kusuruh meneruskan. Lalu dengan gaya 69, Dian menyuruh Agnes menjilati vaginanya. Sementara itu, aku mulai mencumbu Elsa. Kubuka kaos ketatnya dengan terburu-buru. Lalu segera kubuka BH-nya.
Sehingga payudara nya yang besar bergoyang-goyang di depan mukaku. “Wow, tete kamu bagus banget. Apalagi putingnya, merah banget kayak permen”, godaku sambil meremas-remas payudara nya dan mengulum putingnya yang besar. Sedangkan Elsa hanya tersenyum malu.
“Ahh, ah Kakak, bisa aja”, katanya sambil tangan kirinya mengelus kepalaku dan tangan kanannya berusaha manjangkau penisku. Melihat dia kesulitan, segera kudekatkan penisku dan kutekan-tekankan ke vaginanya. Sambil mendesah keenakan, tangannya mengocok penisku. Karena kurasakan air maniku hampir saja muncrat, segera kuhentikan kocokannya yang benar-benar nikmat itu.
Harus kuakui, kocokannya lebih nikmat daripada Dian. Setelah menenangkan diri agar air maniku tidak keluar dulu, aku mulai melorotkan CD-nya yang sudah basah kuyup. Begitu terbuka, terlihat bulu kemaluannya lebat sekali, walaupun tidak selebat Dian, sehingga membuatku sedikit kesulitan melihat vaginanya. Setelah kusibakkan, baru terlihat vaginanya yang berair.
Kusuruh Elsa mengangkang lebih lebar lagi agar memudahkanku menjilat vaginanya. Kujilat dan kuciumi vaginanya. Kepalaku dijepit oleh kedua pahanya yang putih mulus dan padat. Nyaman sekali pikirku. “aahh, Kak… Elsa mau pipiss…” erangnya sambil meremas pundakku.
“Keluarin aja. Jangan ditahan”, kataku. Baru selesai ngomong, dari vaginanya terpancar air yang lumayan banyak. Bahkan penisku sempat terguyur oleh pipisnya. Wah nikmat sekali jeritku dalam hati. Hangat. Setelah selesai, kuajak Elsa kembali ke tempat tidur.
Kulihat Dian dan Agnes sedang asyik berciuman sambil tangan keduanya memainkan vaginanya masing-masing. Sementara di sprei terlihat ada banyak cairan. Rupanya keduanya sudah sempat ejakulasi. Karena Dian adalah pacarku, maka ia yang dapat kesempatan pertama untuk merasakan penisku. Kusuruh Dian nungging.
“Sayang, Dian udah lama nunggu saat-saat ini”, katanya sambil mengambil posisi nungging. Setelah sebelumnya sempat mencium bibirku dan kemudian mengecup penisku dengan mesra. Tanpa berlama-lama lagi, kuarahkan penisku ke vaginanya yang sedikit membuka. Lalu mulai kumasukkan sedikit demi sedikit.
Vaginanya masih sangat sempit. Tapi tetap kupaksakan. Dengan hentakan, kutekan penisku agar lebih masuk ke dalam. “Aachk! Sayang, sa… sakit! aahhck… ahhck…” Dian mengerang tetapi aku tak peduli. Penisku terus kuhunjamkan.
Sehingga akhirnya penisku seluruhnya masuk ke dalam vaginanya. Kuistirahatkan penisku sebentar. Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut. Membuatku ingin beraksi lagi. Kumulai lagi kocokan penisku di dalam vaginanya yang basah sehingga memudahkan penisku untuk bergerak.
Kutarik penisku dengan perlahan-lahan membuatnya menggeliat dalam kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Makin kupercepat kocokanku. Tiba-tiba tubuh Dian menggeliat dengan liar dan mengerang dengan keras. Kemudian tubuhnya kembali melemas dengan nafas yang memburu. Kurasakan penisku bagai disemprot oleh air hangat.
Rupanya Dian sudah ejakulasi. Kucabut penisku dari vaginanya. Terlihat ada cairan yang menetes dari vaginanya. “Kok ada darahnya sayang?” tanya Dian terkejut ketika melihat ke vaginanya. “Kan baru pertama kali”, balas Dian mesra. “Udah, nggak apa-apa. Yang penting nikmat kan sayang?” kataku menenangkannya sambil mengeluskan penisku ke mulut Elsa.
Dian cuma tersenyum dan setelah kucium bibirnya, aku pindah ke Elsa. Sambil mengambil posisi mengangkang di atasnya, kudekatkan penisku ke mulutnya. Kusuruh mengulum sebentar. Lalu kuletakkan penisku di antara belahan payudara nya.
Kemudian kudekatkan kedua payudara nya sehingga menjepit penisku. Begitu penisku terjepit oleh payudara nya, kurasakan kehangatan. “Ooh… Elsa, hangat sekali. Seperti vagina”, kataku sambil memaju-mundurkan pinggulku. Elsa tertawa kegelian. Tapi sebentar kemudian yang terdengar dari mulutnya hanyalah desahan kenikmatan.
Setelah beberapa saat mengocok penisku dengan payudara nya, kutarik penisku dan kuarahkan ke mulut bawahnya. “Dimasukin sekarang ya?” kataku sambil mengusapkan penisku ke bibir kewanitaannya. Kusuruh Elsa lebih mengangkang. Kupegang penisku dan kemudian kumasukkan ke dalam kewanitaannya.
Dibanding Dian, vagina Elsa lebih mudah dimasuki karena lebih lebar. Kedua jarinya membuka kewanitaannya agar lebih gampang dimasuki. Sama seperti kakaknya, Elsa sempat mengerang kesakitan. Tapi tampaknya tidak begitu dipedulikannnya. Kenikmatan hubungan seks yang belum pernah dia rasakan mengalahkan perasaan apapun yang dia rasakan saat itu. Kupercepat kocokanku.
“Aahh… aahh… aacchk… Kak terus Kak… ahh… ahh… mmh… aahh… Elsa udah mau ke… keluar.” Mendengar itu, semakin dalam kutanamkan penisku dan semakin kupercepat kocokanku. “Aahh… Kak… Elsa keluar! mmh… aahh… ahh…” Segera kucabut penisku. Dan kemudian dari bibir kemaluannya mengalir cairan yang sangat banyak.
“Elsa, nikmat khan?” tanyaku sambil menyuruh Agnes mendekat. “Enak sekali Kak. Elsa belum pernah ngerasain yang kayak gitu. Boleh kan Elsa ngerasain lagi?” tanyanya dengan mata yang sayu dan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku mengangguk. Dengan gerakan lamban, Elsa pindah mendekati Dian. Yang kemudian disambut dengan ciuman mesra oleh Dian.
“Nah, sekarang giliran kamu”, kataku sambil merangkul pundak Agnes. Kemudian, untuk merangsangnya kembali, kurendahkan tubuhku dan kumainkan payudara nya. Bisa kudengar jantungnya berdegup dengan keras. “Agnes jangan tegang ya. Rileks aja”, bujukku sambil membelai-belai vaginanya yang mulai basah. Agnes cuma mengangguk lemah. Kubaringkan tubuhku.
Kubimbing Agnes agar duduk di atasku. Setelah itu kuminta mendekatkan vaginanya ke mulutku. Setelah dekat, segera kucium dan kujilati dengan penuh nafsu. Kusuruh tangannya mengocok penisku. Beberapa saat kemudian,
“Kak… aahh… ada yang… mau… keluar dari memek Agnes… aahh… ahh”, erangnya sambil menggeliat-geliat. “Jangan ditahan Agnes. Keluarin aja”, kataku sambil meringis kesakitan. Soalnya tangannya meremas penisku keras sekali. Baru saja aku selesai ngomong, vaginanya mengalir cairan hangat.
“Aahh… aachk… nikmat sekali Kak… nikmat…” jerit Agnes dengan tangan meremas-remas payudara nya sendiri. Setelah kujilati vaginanya, kusuruh dia jongkok di atas penisku. Begitu jongkok, kuangkat pinggulku sehingga kepala penisku menempel dengan bibir vaginanya. Kubuka vaginanya dengan jari-jariku, dan kusuruh dia turun sedikit-sedikit.
Vaginanya sempit sekali. Maklum, masih anak-anak. Penisku mulai masuk sedikit-sedikit. Agnes mengerang menahan sakit. Kulihat darah mengalir sedikit dari vaginanya. Rupanya selaput daranya sudah berhasil kutembus. Setelah setengah dari penisku masuk, kutekan pinggulnya dengan keras sehingga akhirnya penisku masuk semua ke vaginanya.
Hentakan yang cukup keras tadi membuat Agnes menjerit kesakitan. Untuk mengurangi rasa sakitnya, kuraba payudara nya dan kuremas-remas dengan lembut. Setelah Agnes merasa nikmat, baru kuteruskan mengocok vaginanya. Lama-kelamaan Agnes mulai menikmati kocokanku.
Kunaik-turunkan tubuhnya sehingga penisku makin dalam menghunjam ke dalam vaginanya yang semakin basah. Kubimbing tubuhnya agar naik turun. “Aahh… aahh… aachk… Kak… Agnes… mau keluar… lagi”, katanya sambil terengah-engah. Selesai berbicara, penisku kembali disiram dengan cairan hangat.
Bahkan lebih hangat dari kedua kakaknya. Begitu selesai ejakulasi, Agnes terkulai lemas dan memelukku. Kuangkat wajahnya, kubelai rambutnya dan kulumat bibirnya dengan mesra. Setelah kududukkan Agnes di sebelahku, kupanggil kedua kakaknya agar mendekat. Kemudian aku berdiri dan mendekatkan penisku ke muka mereka bertiga.
Kukocok penisku dengan tanganku. Aku sudah tidak tahan lagi. Mereka secara bergantian mengulum penisku. Membantuku mengeluarkan air mani yang sejak tadi kutahan. Makin lama semakin cepat. Dan akhirnya, crooottt… croott… creet… creet! Air maniku memancar banyak sekali. Membasahi wajah kakak beradik itu. Kukocok penisku lebih cepat lagi agar keluar lebih banyak.
Setelah air maniku tidak keluar lagi, ketiganya tanpa disuruh menjilati air mani yang masih menetes. Lalu kemudian menjilati wajah mereka sendiri bergantian. Setelah selesai, kubaringkan diriku, dan ketiganya kemudian merangkulku.
Agnes di kananku, Elsa di samping kiriku, sedangkan Dian tiduran di tubuhku sambil mencium bibirku. Kami berempat akhirnya tertidur kecapaian. Apalagi aku, sepanjang pengalamanku berhubungan seks, belum pernah aku merasakan yang senikmat ini.
Dengan tiga orang gadis, adik kakak, masih perawan pula semuanya.
Saturday, July 2, 2016
Sekretaris pemuas nafsuku
Ini bermula dari waktu aku lulus dari perguruan tinggi dan aku mulai mencari pekerjaan, orang tuakupun mengijinkan aku merantau mencari pekerjaan, mungkin menurut orang tuaku aku sudah dewasa, sudah tahu baik dan buruknya kehidupan. singkat cerita nasib mujurpun aku dapati dari tempat aku bekerja yang sekian lama. Cerita nya aku diangkat dengan atasanku sebagai kepala cabang di sebuah wilayah. Pada awal bulan selalu menyajikan pagi yang indah. masa laporan bertumpuk-tumpuk telah lewat, mana kantong juga masih tebal. dunia telah melayaniku dengan sangat memuaskan dan merubahku dari seorang lelaki kampung yang lugu menjadi laki –laki kampung yang liar.
Posisi kantorku ada di lantai belasan. dengan ruang di pojokan dan pemandangan penuh ke arah jalanan. pagi hari mataku dibasuh oleh lalu lalang paha yang mulus dan dada penuh wanita wanita karir yang terpampang di lensa mataku. dasar wanita, selalu ingin dikagumi. dan aku tak malu untuk mengakui bila selalu aku mengagumi mereka. dan tentu menikmati pula. dengan teropongku. dan dengan yang lain pula.
perusahaan tempat aku hidup bukanlah yang terbesar diantara ribuan perusahaan yang sama yang ada di jakarta. namun jelas bukan yang terkecil, karena perusahaan ini telah setuju membayarku dengan gaji yang lumayan tinggi. meski untuk itu aku harus menyerahkan segalanya. seluruh waktuku, meninggalkan hobbyku, sahabatku, dan semuanya.
karena itu aku selalu merasa untuk harus memiliki sesuatu kegiatan yang bisa meredakan tekanan ini. dan karena jelas waktuku telah dibeli lunas perusahaan tempat aku bekerja, Untuk menghilangkan kejenuhan pekerjaan yang terlalu banyak, aku mulai mencari hiburan melalui browsing situs seks yang mungkin bisa memuaskan aku. lalu tidak lagi. menghadirkan situs “dewasa” yang cukup menghibur. lalu tidak terlalu lagi. maka mau tidak mau aku menyajikan laga seru tepat di meja kerjaku. dan siapa lagi bintang utamanya kalau bukan aku. dan tentu saja salah seorang anak buah, Sekretarisku “Nofi”, dia seorang dari kota yang sama denganku.
Awalnya asal usul yang sama membuat kami merasa lebih dekat dibanding dengan teman yang lain. aku membuat peluang untuk menjadi lebih dekat. lalu beban pekerjaan yang sama. membuat kami semakin dekat, tetapi jelas buatku untuk berpacaran bukanlah suatu pilihan. aku tak ingin terikat untuk sementara waktu.
dulu aku merasa rambutnya yang panjang dan selalu harum itu begitu menarik. aku katakan itu padanya dan kami menjadi semakin dekat. lalu aku juga merasa matanya adalah mata terindah yang pernah aku temui. aku juga katakan itu dan kami juga semakin dekat. terakhir aku mulai merasa kalau dadanya yang sedang sedang saja itulah yang paling indah di dunia, juga pantat yang menonjol di bawah pinggang yang ramping itu. apalagi kalau ke bawah lagi, pahanya putih mulus sampai kaki terbalut sepatu hak tinggi itu adalah daya tarik yang tak dapat kutahan lagi. tetapi ini tidak aku katakan.
Terkadang aku tersenyum sendiri menghirup kopi. lalu meraih sebuah laporan di mejaku. Beberapa saat mataku terpaku, membayangkan tubuh indah Nofi tanpa busana dan meliuk liuk dan khayalanku semakin jauh.
Aku memutuskan menghubungi nofi dengan alasan soal laporan, suara merdu kembali bergumam akrab, berisi penjelasan dan sedikit gurau. dia memang tidak pernah canggung menghadapiku. pengakuannya aku telah dianggapnya sebagai saudara tuanya sendiri. dan pengakuanku aku menganggapnya sebagai korban yang potensial. tentu saja cukup pengakuan dalam hati.
Aku memutuskan menghubungi nofi dengan alasan soal laporan, suara merdu kembali bergumam akrab, berisi penjelasan dan sedikit gurau. dia memang tidak pernah canggung menghadapiku. pengakuannya aku telah dianggapnya sebagai saudara tuanya sendiri. dan pengakuanku aku menganggapnya sebagai korban yang potensial. tentu saja cukup pengakuan dalam hati.
‘udah kamu kesini aja terangin langsung. aku gak nyambung.’
ceklek. telfon kututup. peluang kubuka.
tidak lama menungu si sintal itu datang. blazer tanpa dalaman membuat aku terkesiap. juga milikku. da di du dia menerangkan ini itu sambil duduk didepanku. mataku bekerja keras, ke wajahnya biar dia tangkap keseriusanku, sebentar ke belahan dadanya.
ceklek. telfon kututup. peluang kubuka.
tidak lama menungu si sintal itu datang. blazer tanpa dalaman membuat aku terkesiap. juga milikku. da di du dia menerangkan ini itu sambil duduk didepanku. mataku bekerja keras, ke wajahnya biar dia tangkap keseriusanku, sebentar ke belahan dadanya.
aku menghela nafas, menunjukkan ketidaknyamanan atas keterangannya dan posisi duduk kami.
‘udah, coba kamu ke samping sini, terangkan lagi, gak enak ngeliat huruf terbalik.’
dia beranjak, lalu pidah ke sampingku. bagiku gerakannya seperti potongan film bioskop dalam gerak lambat memutari meja besar milikku dan berdiri disampingku. lalu merunduk. tubuh kami begitu dekat. Lalu nofi kembali menyerocos menerangkan laporan tanpa masalah itu. sambil memainkan kata oh ini, oh itu, tangan kananku hinggap di pinggulnya. entah dia sadar ata tidak, yang jelas dia diam saja.
‘udah, coba kamu ke samping sini, terangkan lagi, gak enak ngeliat huruf terbalik.’
dia beranjak, lalu pidah ke sampingku. bagiku gerakannya seperti potongan film bioskop dalam gerak lambat memutari meja besar milikku dan berdiri disampingku. lalu merunduk. tubuh kami begitu dekat. Lalu nofi kembali menyerocos menerangkan laporan tanpa masalah itu. sambil memainkan kata oh ini, oh itu, tangan kananku hinggap di pinggulnya. entah dia sadar ata tidak, yang jelas dia diam saja.
gerakan tanganku yang mulai nakal, dan meraba wilayah pinggul indah itu.nofi tiba tiba diam.
‘pak …’, protesnya. sambil mendelik.
‘sst…’, kataku sambil tersenyum dan sambil melanjutkan aktivitas tanganku, namun kali ini agak ke bawah.
‘pak, saya tidak suka …’
hmmmp, kuraih pundaknya yang rendah karena merunduk, kutarik dan xxx dengan lidahku yang mendidih. dia menolak. wajar. namanya juga pembukaan.
saat rongga mulutku dipenuhi oleh daun telinganya dia berbisik.
‘jangan pak ..’
‘pak …’, protesnya. sambil mendelik.
‘sst…’, kataku sambil tersenyum dan sambil melanjutkan aktivitas tanganku, namun kali ini agak ke bawah.
‘pak, saya tidak suka …’
hmmmp, kuraih pundaknya yang rendah karena merunduk, kutarik dan xxx dengan lidahku yang mendidih. dia menolak. wajar. namanya juga pembukaan.
saat rongga mulutku dipenuhi oleh daun telinganya dia berbisik.
‘jangan pak ..’
aku tak peduli. pegangan tangan kiriku di rambutnya kupererat mencegah leher jenjangnya menjauh dari bibirku yang lapar. tangan kananku membasuh punggungnya, pantatnya juga pahanya. lalu kubisikkan.‘aku sayang kamu nof’, tentu saja itu gombal,’sangat sayang’.
entah bagaimana detailnya, tapi aku rasa perubahan itu berlangsung hanya beberapa menit. dan kini kami telah saling berpagutan. bibir kami mengeluarkan jurus jurus andalan dan pamungkas seolah saling berusaha untuk mengalahkan. dan tanganku … aku tak ingat telah kemana saja. yang pasti pantat itu kini kuremas tanpa terhalang lagi oleh rok span yng digunakan nofi, matanya terpejam penuh penghayatan. nafasnya memburu deras. tangan kirinya bertumpu di meja dan tangan kanannya menjambak rambutku. tubuhnya masih meliuk liuk penuh sensasi.
entah bagaimana detailnya, tapi aku rasa perubahan itu berlangsung hanya beberapa menit. dan kini kami telah saling berpagutan. bibir kami mengeluarkan jurus jurus andalan dan pamungkas seolah saling berusaha untuk mengalahkan. dan tanganku … aku tak ingat telah kemana saja. yang pasti pantat itu kini kuremas tanpa terhalang lagi oleh rok span yng digunakan nofi, matanya terpejam penuh penghayatan. nafasnya memburu deras. tangan kirinya bertumpu di meja dan tangan kanannya menjambak rambutku. tubuhnya masih meliuk liuk penuh sensasi.
kami bergumul semakin liar. lonjakan lonjakan kami semakin tak terkontrol. gelombang itu tak dapat tertahan lagi. terasa panas seolah ada diubun ubun. lalu kurengkuh tubuhnya dengan sangat erat. kami saling melekat dengan sangat erat.
kami berpelukan lama. melepas ketegangan ini. dan berangsur angsur mengembalikan kesadaran kami. ruangan yang tadinya terlihat kabur sedikit demi sedikit menjadi jelas.
meja, kursi, deretan sebagai saksi bisu.
kami berpelukan lama. melepas ketegangan ini. dan berangsur angsur mengembalikan kesadaran kami. ruangan yang tadinya terlihat kabur sedikit demi sedikit menjadi jelas.
meja, kursi, deretan sebagai saksi bisu.
Mulai saat itu Nofi sekretarisku adalah pemuas nafsuku, entah sampai kapan hubungan ini akan berakhir.
LINK ALTERNATIF ANTI NAWALA : http://192.169.219.143/
Tuesday, June 28, 2016
Kenangan Indah Di Bus Super Eksekutif
MEJA13 - Kenangan Indah Di Bus Super Eksekutif – Hujan turun demikian derasnya, Jakarta kembali kebanjiran akibatnya macet dimana mana. Jam baru menunjukkan pukul 15:20, antrian di depan pintu toll Rawamangun sudah hampir mencapai lampu merah Hutan kayu. Tdk ada lagi yg dapat aku lakukan untuk keluar dari lingkaran kemacetan ini, karena posisi mobilku sudah ditengah, kiri kanan.. Kena, begitu juga depan dan belakang.
Persis diantrian sebelah kiri kulihat seorang gadis dengan rambut dikepang 2 memandangi kemacetan dengan senyum dikulum. Mungkin bagi dia tdk ada yg perlu dipermasalahkan, tinggal duduk enak dikursi bus yg empuk sambil menikmati musik dan menonton taygan video. Lain halnya dengan aku yg harus terus menerus menginjak kopleng dan rem serta stress takut bersenggolan dengan kendaraan lain, betul betul capek lahir bathin.
Jakarta-Pekanbaru PP, demikian yg tertulis dikaca depan bus tersebut. Ini adalah salah satu bus terbaik yg masih setia melayani trayeknya walaupun terus menerus digempur dengan tarif super murah oleh perusahaan penerbangan. Dengan sedikit mengangkat kepala aku dapat melihat keseluruhan dari bus tersebut, warnanya kombinasi kuning, hijau dan dipermanis dengan garis garis warna ungu dibahagian belakangnya. Isinya hanya 6 orang, berarti 3 awak bus plus 3 penumpangnya.
Sungguh saat ini adalah masa masa sulit buat pengusaha bus jarak jauh, apalagi dengan trayek dari Jakarta ke kota kota di pulau Sumatera. Harga tiket pesawat adakalanya lebih rendah dari pada harga karcis bus executive. Tdk cukup dengan derita itu saja, jalan jalan disepanjang lintas Sumatra kondisinya betul betul menggenaskan. Kita tdk bisa lagi memilih” Jalan mana yg akan ditempuh, tetapi mesti memilih lobang mana yg akan dimasuki” yg tersisa bukan lagi jalan tetapi lobang yg sambung menyambung dengan panjang ribuan kilometer.
Sorry nglantur..!, bus dan gadis tersebut tiba tiba mengusik kenangan lamaku dengan seorang gadis dari Pekanbaru. Apalagi dari station FM yg kustel sebagai penghilang jemu, berkumandang lagu lama” When a man love a woman” oleh Michael Bolton. Lengkaplah sudah pemicu layar kenangan tersebut, semua tiba tiba tergambar dengan jelas di depan mata. Kejadiannya terjadi beberapa tahun yg lalu, waktu itu musim kemarau sedang berada dipuncaknya. Disepanjang pulau Kalimantan dan pulau Sumatera terjadi kebakaran hutan yg maha hebat.
Asap menyelimuti hampir sepertiga dari wilayah Indonesia malah sampai menyeberangi selat Melaka, dengan menutup rata Singapura serta membuat hilangnya cahaya matahari di beberapa negara bahagian di Malaysia. Pelabuhan udara Sultan Syarief Kasim, Pekanbaru sudah 1 mingu ditutup karena jarak pandang yg hanya beberapa meter saja. Jangankan buat pilot pesawat yg butuh jarak pandang yg jauh, para pengemudi kendaraan bermotorpun sudah sangat kesulitan untuk melaju dengan aman di jalan raya.
Aku baru saja menyelesaikan tugas di salah satu perusahaan minyak di Duri dan harus segera kembali ke Jakarta, tdk ada kamus menunggu dalam pelaksaan tugas dari kantorku. Apa boleh buat aku mesti kembali dengan menumpang bus antar Kota dan antar Propinsi. Aku sudah membayangkan ketdknyamanan yg akan dialami selama lebih kurang 36 jam diatas bus dengan menelusuri jalan lintas sumatera sepanjang 1350 km dan melintasi 4 propinsi di lintas tengah. Tetapi rupanya bayangan tdklah selalu sejalan dengan kenyataan.
Jam 2 siang aku tiba di loket sebuah perusahaan bus jarak jauh yg direkomendasikan oleh salah seorang teman sebagai salah satu perusahaan bus yg memiliki armada dan pelayanan terbaik di Indonesia. Begitu memasuki loket aku mulai ragu” masih ada tempat nggak” aku bergumam dalam hati, soalnya penumpang sudah begitu ramainya, maklum disamping karena bandara ditutup, hari itu juga bertepatan dengan hari pertama libur sekolah secara nasional.. Semua bangku diruang tunggu penuh terisi. Disetiap sudut terlihat koper dan kardus yg berisikan barang bawaan calon penumpang semrawut, bergeletakan dan membuat kaki sulit dilangkahkan.
“Abang mau kemana bang,” suara lembut petugas loket menyambut kedatanganku.
Dia duduk dibelakang meja panjang yg berbentuk siku siku, sehingga sekaligus menjadi pemisah antara petugas dengan para penumpang.
“Ke Jakarta dik, masih ada tempat nggak,” aku menjawab sambil melirik belahan bajunnya yg sedikit terbuka.
Persis di payudara kirinya tertulis namanya ‘Sulistyowati’. Dik Sulis ini berwajah asli solo dengan kulit kuning langsat dan sangat serasi dengan seragam yg dia pakai yaitu kombinasi hijau, kuning dan ungu.
“Wah.. Abang sungguh beruntung”
“Maksudnya..”
“Tuh.. Ibu itu baru saja membatalkan keberangkatannya, kalau tdk, Abang kena menunggu tiga hari untuk dapat tiket,” dia berkata sambil menujuk pada seorang Ibu yg baru saja lewat disampingku.
“Oh.. Terimakasih Dik Sulis,” aku berkata sambil lebih mebungkukkan badan untuk dapat lebih jelas melihat belahan bajunya.
Wouw dia punya payudara cukup subur, mungkin 36B kali.
“Nih tiketnya bang,” dia menyerahkan tiket sambil menyebutkan ongkos yg mesti kubayar.
Cukup mahal memang, tetapi dibandingkan dengan tarif pesawat harganya tdklah sampai tiga puluh persennya. Aku segera membayar harga tiket dan berlalu untuk mecari tempat duduk. Kulepaskan pandangan kesekeliling ruangan, tetapi semua bangku penuh, dan orang orang yg berdiri justru lebih banyak dari yg kebagian tempat duduk. Dalam hati aku berkata,
“Aduh.. Ini baru jam setengah tiga sedangkan jadwal busku jam empat, berdiri 1 jam setengah lumayan juga” Aku mengoyg goygkan kaki sambil mengamati tiketku.
Rupanya bus yg akan kutumpangi betul betul bus yg istimewa. Mereka menamakannya bus” Super Executive”. Sebuah sebutan yg pantas menurutku. Di jajaran sebelah kiri hanya ada satu tempat duduk berjejer kebelakang sedangkan disebelah kanan terdiri dari dua buah tempat duduk. Bangku bangkunya dilengkapi dengan foot leg dan berbusa empuk persis seperti kursi executive class di pesawat.
Di antara sisi tempat duduk dan kaca jendela dijepitkan beberapa bantal kecil berwarna biru muda. Disandaran kepala terdapat selimut hangat dengan warna mirip bendera Italy, merah, putih dan hijau. Persis diatas kepala terdapat dua buah ventilasi ac yg dapat dirubah baik volume maupun arah semprotannya. Melengkapi itu semua adalah sebuah TV 17 inchi tergantung diplatfon disebelah kiri pengemudi, sehingga memungkinkan semua penumpang melihatnya dengan jelas.
Audionya keluaran salah satu pabrik di Jerman, suaranya jernih dan lembut karena dilengkapi dengan subwoover.
Dibelakang tersedia sebuah toilet yg dilengkapi dengan tissue, air, gayung dan sebuah cermin kecil didindingnya, tetapi ini ‘Hanya Untuk Buang Air Kecil’ demikian sederet tulisan di depan pintu masuk. Tak lupa mereka juga memanjakan para perokok dengan menyediakan ruang khusus untuk merokok atau smoking area.
“Para penumpang jurusan Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya dipersilahkan menaiki kendaraan, karena bus anda akan segera diberangkatkan” Lamunanku terputus dikejutkan oleh suara halus dari pengeras suara dan aku bergegas meninggalkan foto besar yg memamerkan interior bus yg tergantung didinding. Tiba tiba semua penumpang berdiri serentak dan suara suara yg keluar dari mulut mereka sungguh beraneka ragam.
“Oi capeklah baok barang tu.. A” Itu pasti orang Minang, yg populasinya didaerah Riau cukup besar.
“Wes sampeyan naek dulu..” Ini kayaknya dari Surabaya, orangnya kalem berjaket kulit warna hitam, sedangkan temannya memakai kaos warna hijau Persebaya dengan dua gigi emas yg sangat menonjol.
“Tos.. Teteh naik di payun atuh,” nggak salah lagi urang Sunda, mungkin mau ke Bandung.
Aku yg tadinya mau buru buru naik ke atas bus jadi terkesima melihat kesibukan mereka. Ada yg bersalaman, berangkulan dan ada yg saling menggeserkan pipi mereka, bersalaman gaya Arab.. “Silahkan Bang” Si Sulis tersenyum sambil merentangkan tangannya.. Aku melangkah naik ke atas bus dengan menginjak keranjang plastik tempat teh botol sebagai alat bantu untuk mencapai tangga utama yg cukup tinggi.
Dalam hati aku bertanya,”Tempat dudukku nomor berapa ya” memang dari tadi aku tdk sempat mencek hal itu. Rupanya aku harus duduk di kursi no. 4C, berarti deretan ke empat dari depan berada disisi sebelah kanan atau bangku dua dua dan persis dipinggir jendela. Wah kebetulan ini adalah tempat duduk favouritku kalau naik bus, karena dengan duduk disamping jendela aku bisa melepaskan pandangan kesegala arah sehingga perjalanan tdk terlalu membosankan. Aku meletakkan tas ku dirak tepat diatas kepala dan memasukkan beberapa koran serta majalah ke dalam kantong pada bagian belakang, bangku depan.
“Bapak bapak dan Ibu ibu selamat datang di atas bus super executive kami, dan semoga perjalanan anda selamat sampai ditujuan”. Sulis si cewek bertetek besar memberikan kata sambutan persis kayak pramugari dipesawat.
“Bus ini dilengkapi dengan AC, karena itu kami minta anda yg merokok untuk hanya menikmati rokoknya di smoking area yg telah kami sediakan.” Wah.. Si Sulis kembali melanjutkan kata pengantarnya sambil berjalan pelan ke arah tempat dudukku.
“Dibelakang juga tersedia toilet tetapi hanya dipergunakan untuk buang air kecil saja, kecuali jika anda semua sepakat untuk bersama sama menikmati bau e e..” Sulis tdk melanjutkan kalimatnya karena hampir semua penumpang tertawa terbahak bahak.
“A.. Indak do, indak talok dek awak manahan baun nyo do” Ibu ibu dibelakangku memberikan komentarnya dalam bahasa Minang.
“Baiklah para penumpang sekalian, terimakasih atas pilihan anda terhadap armada kami dan selamat jalan” Sulis segera meminta tanda tangan pengemudi sebagai pengesahan surat jalan dan meberikan beberapa copynya kepada kondektur untuk disimpan, kemudian dia menghadiahkan sejumput senyum manis ke arahku sambil melambaikan tangannya.
“Oh.. Sulis, seandainya aku punya sedikit waktu untuk bisa menginap di Pekanbaru, maka aku yakin kesuburan gunung payudaramu akan dapat kudaki, tetapi.. Yah.. Pekerjaan tdk mengenal waktu untuk menunggu” Setelah kondektur bus selesai membagikan snack, kendaraan mulai bergerak menuju Jakarta dan kulihat jam tanganku persis menunjukkan pukul 4 sore. Wah..
Aku salut atas cara kerja yg profesional dari segenap crew dan pengurus bus, yg dapat mengalahkan perusahaan penerbangan dalam soal tepat waktu keberangkatan. Lho ada yg aneh kok bangku disebelahku no. 4B masih kosong!!
“Bang ini bangku kosong ya” aku bertanya ke kondektur bus yg berseragam ungu kombinasi hijau.
“Tdklah bang, mana ada tempat kosong sekarang ini, kayaknya penumpang pesawat tumplek semua kesini, apalagi kan libur sekolah!” dia berkata sambil membetulkan letak barang barang bawaan penumpang agar tdk terjatuh selama dalam perjalanan.
“Tapi.. Ini kosong kok” aku penasaran sambil menepuk nepuk bangku tersebut dengan tangan kiriku.
“Penumpangnya naik di Teratak Buluh” (nama sebuah kampung diluar kota Pekanbaru)
“Oh..” Aku terdiam sambil mengamati deretan toko toko yg berlalu satu persatu seiring dengan kecepatan bus yg makin meningkat.
Pekanbaru, ibukota propinsi Riau memang berkembang dengan pesatnya, maklum dengan kandungan minyak serta gas alam yg melimpah dan potensi hutan yg kaya dengan kayu untuk industri, maka tak heran bangunan bangunan baru seperti kantor pemerintah, ruko dan malah plaza plaza bermunculan dimana mana. Apalagi saat ini perkebunan kelapa sawit dalam skala besar sudah mulai menghasilkan minyak yg pada dasarnya juga akan ikut menaikkan PAD daerah dan memperkuat daya beli masyarakat.
Tetapi satu hal yg selalu menghantui fikiranku adalah” Apakah warga Pekanbaru asli akan bernasib sama dengan saudaranya orang Betawi yg tdk bisa menjadi tuan di tempat kelahirannya sendiri” Semoga tdk demikian, karena factor budaya dan adat istiadat meraka sangat berbeda, sehingga cara pandang mereka terhadap para pendatang juga sangat berbeda.
“When a man love a woman” alunan lembut suara serak Michael Bolton membuat fikir ku merasa rileks, apalagi didukung oleh tempat duduk yg sangat nyaman. Kurebahkan sandaran bangku kebelakang, foot leg kunaikkan selimut segera kututupkan kekaki karena dinginnya ac mulai terasa dan bantal kecil kupeluk buat menghangatkan bagian perut yg terasa kembung diterpa udara dingin Wah aku betul betul surprise, nggak nygka kalau ada bus yg demikian bagusnya, sehingga tempat duduknya bisa dirubah menjadi tempat tidur yg cukup memadai buat ditempati selama 36 jam kedepan.
Pelan tetapi pasti, seiring alunan lagu dan buaiyan lenggak lenggok bus dalam menapaki setiap tikungan maka mataku mulai berat “Tidur.. Ah..” Aku nggak bisa ceritakan seperti apa aku tidur waktu itu.. He he he, yg pasti tidurku begitu nyenyaknya sehingga sama sekali aku tdk menyadari kalau disampingku sekarang telah duduk seorang gadis cantik yg rupanya naik di Teratak Buluh.
“Maaf Bang kalau tidurnya terganggu”
“Oh.. Nggak” Aku bangun sambil memastikan tdk ada setetes ilerpun yg tak terkontrol sehingga keluar melampaui garis bibir dan dengan ujung telunjuk kubersihkan taik mata yg mungkin nongol disudut sudut mata.
Syukur kali ini aku nggak tidur ngiler dan juga nggak ada taik mata, berarti tubuhku masih bisa menjaga martabat tuannya di depan seorang gadis cantik yg belum kukenal. Kalaulah tadi aku tidur ngiler dan bangun dengan mata penuh dengan ampas airmata, waduh.. ajegile, tentu sigadis disebelah akan hilang selera buat kuajak berkenalan dan alangkah ruginya kalau sepanjang perjalanan 1350 km cuma bengong dan tidur aja.
“Wah jam berapa ini” Aku bertanya pada sendiri sambil melihat jam tangan, ternyata aku tertidur selama dua jam limabelas menit.
“Sekarang sudah jam enam sperempat bang” Gadis disebelahku berbaik hati memberi tahu sambil memandang dengan matanya yg teduh.
“Oh iya, saya kurang tidur semalam dan perjalanan dari Duri ke Pekanbaru sangat melelahkan karena ac mobilnya mati”
Aku memberikan sedikit keterangan tanpa peduli dia butuh atau tdk, hitung hitung balas jasalah karena dia sepertinya memberi perhatian sama aku.
“Pantas tidur abang lelap sekali”
“Oh iya.. Nama saya Dodo, Dodo Djauhari” aku megulurkan tangan untuk berkenalan
“Saya Rostiana, abang boleh panggil Ina saja” Kami berjabatan tangan, tiba tiba bus menikung kekiri dalam kecepatan yg cukup tinggi akibatnya tubuh Ina terdorong ke arah ku, untung pembatas jok antara kami masih terpasang sehingga hanya kepalanya yg jatuh dalam dekapanku.
Rambutnya hitam mengkilap dan menebarkan aroma khas yg memicu mesiu syahwat untuk menggerakkan jiwa dan vital kelelakianku agar bangkit dari tidurnya. Rambut itu begitu terawat, panjangnya hampir mencapai pingul, tetapi dijalin dua ala gadis tahun enampulahan.
“Oh.. Alangkah indahnya kalau rambut itu dibiarkan tergerai bebas dipunggung putih telanjang,” pikiran ngeresku mulai keluar. Kami sama sama tertawa.
“Ha ha.. Ina, sebaiknya pembatas ini kita angkat aja ya, agar bukan hanya kepala Ina yg bisa abang peluk!” Aku menggodanya sambil mendorong pelan tangannya agar dia bisa duduk dengan benar.
“Wah enak di abang nggak enak di Ina dong” Dia menanggapi godaanku sambil tersenyum.
“Tapi kalau abang berjanji nggak macam-macam, ok lah kita akan angkat pembatas ini.
“Abang janji lah.. Dek, abang tak akan macam macam,” aku sengaja mengucapkan kata kata dek agar mendapat kesan lebih intim.
“Kalau begitu abang angkat lah.. Masak Ina pula yg mesti angkat! logat Melayunya masih cukup kental.” Aku mengangkat balok busa yg memisahkan kursi kami berdua.
“Nah sekarang bangku kita jadi lebih lega kan”
“Betul bang.. Tapi abang sudah janjikan tdk akan macam- macam”
“Abang nih orang baik baik dek, pasti abang nggak bakalan macam macam, karena abang suka yg manis manis”. Ina tertawa keras sekali, dia merasa lucu dengan kata kataku yg sebetulnya nggak nyambung, tapi pengertiannya benar.
Sebagian orang di pulau Sumatera menyebut rasa asam dengan macam.
“Oh.. Jadi abang tuh sukakan manisan ya!”
“Nggak juga.. Abang hanya suka gadis manis seperti dek Ina..” Rudal rayuan mulai kulepas, dengan sasaran lubuk hati dan benteng cinta si Ina.
Melihat gelagat dan cara penerimaan dan sikapnya yg lepas bebas begitu, aku yakin tinggal dalam hitungan jam kedepan aku akan berhasil mengakuisisi gadis manis ini.
“Sudah.. Mulai tuh merayu”. Dia berkata sambil melirik, wah.. Mata itu begitu bening dan teduh, aku berkata dalam hati, pasti akan sangat menyenangkan melihat mata itu dikala pemiliknya mulai horny.
Sayu, teduh dan mengisyaratkan kepasrahan serta kenikmatan surgawi yg ingin segera dia reguk.
“Tdk.. Yg abang katakan benar adanya, kamu memang manis dan cantik kok”
“Ina tahu.. Lelaki tuh kalau sudah merayu pasti ada maunya”
“So pasti itu..”
“Terus terang aja Abang tuh maunya apa”
“Begini dek Ina, abang tadi dari Duri jam 11 pagi, karena buru buru abang minta sopir taksi untuk lansung tancap gas ke Pekanbaru.”
“Sudah.. Jangan berbelit belit gitu lah, terus terang aja” Tanpa sengaja tangannya menepuk pahaku, oh.. Tangan itu begitu halus membuat aku ingin ditepuk beribu kali lagi.
“Jadi abang tdk sempat makan siang! ha ha ha” Ina tertawa berderai sambil menutupi mukanya dengan kedua belah tangannya.
“Ina tahu sudah maksud abang, abang hendakkan kueh nih kan”
“Semoga Tuhan memberikan hidayahNya kepada orang orang yg mau memberikan makanan, ketika orang lain sedang lapar.. Amin” Aku berpura pura berdoa sambil membentangkan kedua telapak tanganku.
“Wah menyenangkan sekali punya teman perjalanan seperti abang Dodo nih, kocak rupanya” Ina tersenyum sambil memberikan sepotong bolu gulung dengan selai nanas, yg aku rasa begitu nikmatnya,
“Apa karena lapar kali ya!” Hanya dalam hitungan detik bolu tersebut ludes sudah, tapi rupanya Ina betul betul mempersiapkan makanan yg cukup buat melakukan perjalanan jauh, dan seperti bisa membaca jalan fikiranku dia berkata.
“Bang kita nih kan mau menempuh perjalanan hapir dua hari, kalau mobil nih rusak di tengah hutan kemana kita nak cari makan! makanya Ina sudah siapkan rupa rupa penganan nih”.
“Terimakasih Ina,”.. Ya Tuhan kasihilah orang orang yg selalu membawa makanan yg banyak dalam tasnya dan dengan senang hati berbagi dengan orang disebelahnya” aku kembali pura pura berdoa.
“Sudahlah bang, aku sudah tahu abang nih banyak kali akal nya, nih yg terakhir buat cuci mulut.” Ina memberikan sebuah jeruk yg cukup besar dan manis sekali, sepertinya ini adalah jeruk lokal tetapi rasanya begitu segar.
Demikianlah awal perkanalanku dengan Ina, katanya dia baru saja menamatkan sekolahnya disalah satu SLTA di Pekanbaru dan bermaksud melanjutkan pendidikan disalah satu perguruan tinggi di Jakarta. Tapi aku sedikit ragu dengan apa yg dia bilang. Memang teteknya telah tumbuh dengan sempurna tetapi sikap kekanak kanakannya masih jelas tersisa, begitu juga dengan wajahnya masih begitu polos dan segar layaknya gadis kelas tiga SMP. Hari itu dia hanya mengenakan baju kaos tanpa kerah berwarna putih dan ada strip coklat yg pas melewati kedua bukit indah di dadanya.
Aku bertanya tanya dalam hati, “Kenapa dia tdk pakai celana jean tapi cuma pakai rok hitam setinggi lutut, padahal ac di mobil cukup dingin. Tetapi justru hal tersebut sangat menguntungkan aku beberapa jam kemudian. TV sudah dinyalakan dan kondektur memutar sebuah video yg bercerita tentang hantu didalam sebuah mobil. Ina demikian ketakukan menyaksikan hantu tersebut sehingga tanpa sadar kadang kadang dia memeluk tubuhku. Kesempatan itu tdk kusia sia kan, semakin aku menakut nakuti dia dengan hantu itu semakin erat pula pelukannya.
Pelan tapi pasti siku kiriku mulai merangsek menekan payudara kanannya. Ina seperti tak peduli dengan tanganku, setiap kali hantu itu keluar di layar TV maka dia akan memelukku, dan saat itu pula siku ku dapat menikmati kenyalnya payudara muda miliknya. Belahan dadanya begitu menonjol, karena dia mempunyai perut yg rata dan pinggang yg kecil, tetapi pantatnya bundar dan padat.. Betul betul seksi.
Jam demi jam terus berlalu, mungkin karena capek Ina tertidur pulas. Pada awalnya posisi tidurnya masih bersandar dengan mantap di sandaran bangku, tetapi akibat goygan bus ketika melewati tikunungan, pelan pelan kepalanya mulai rebah kekanan dan akhinya mendarat dengan lembut di bahuku. Nafasnya pelan tapi teratur, menandakan tidurnya sudah lelap sekali. Kembali siku kiriku kugeser sedikit demi sedikit agar tepat mengenai ujung lancip payudaranya dan aku menutup mata, pura pura tidur.
Setiap kali mobil terguncang, tekanan siku ku semakin mantap, sehingga dapat kurasakan kehangatan yg mulai menjalari setiap nadiku dan membuat sesuatu bergerak secara otomatis, makin keras, makin keras dan oh.. Penisku sudah bangun. Dengan lembut dan peerllahann.. Sekali kuraih tangan kanannya dan kuletak kan disela sela pahaku. Tangannya yg lembut tepat menimpa kejantananku dan aku terus berdoa agar bus lebih sering masuk lobang lobang kecil yg akan menimbulkan goncangan ketangan Ina, dan penisku bisa merasakan gesekan hangat tangannya.
Tubuh Ina tiba tiba bergerak dan mulutnya mengeluarkan gigauan yg tdk bisa kutangkap maknanya, tetapi tangannya mencengkram seperti mau memegang sesuatu dan oohh”yg dia pegang justru batang penisku yg sudah demikian tegangnya. Aku yakin Ina tdk sadar akan itu semua, tetapi bagaimanapun justru secara tak sengaja dia telah membangkitkan gairah birahiku yg paling dalam. Pantatku mulai kugerakkan turun naik agar batang penisku dapat merasakan sentuhan tangannya walaupun hanya dari balik celana. Oh.. Makin lama semakin keras penisku dan aku mulai merasakan denyutan airbah spermaku mengalir dari zakar menuju batang penis dan terus ohh.. Aku mau keluar.
Tiba tiba aku dikagetkan oleh lampu interior bus menyala serentak membuat suasana jadi terang benderang.
“Istirahat, istirahat, bagi yg mau mandi, sholat dan makan, kami sediakan waktu yg cukup” Dalam hati aku mengumpat,
“Sial.. Sudah mau orgasme jadi.. Terputus deh” Rupanya bus sudah sampai disebuah rumah makan di daerah Gunung Medan.
Ina rupanya terbangun karena silaunya cahaya lampu, mula mula matanya terbuka setengahnya, dia melihat ke arahku tetapi tdk bicara apa apa, sepertinya bengong.
“Hai bangun.. Kita harus makan dulu ntar kelaparan,”aku berkata sambil membelai rambutnya.
Dia kaget melihat posisi tidurnya yg sudah dalam pelukanku dan tangan kanannya masih tetap menekan penisku.
“Wah.. Aku kok jadi gini tidurnya”
“Tadi kamu rebah ke bahuku, aku mau bangunin tapi kulihat kamu nyeyak sekali.. Ya kubiarkan aja, kamu marah..” Aku menerangkan apa yg terjadi, tapi tentu saja tdk semuanya, karena soal siku mendarat di payudara harus ditutup rapat dulu.
“Oh.. Maaf ya bang, Ina jadi membebani Abang”dia menjawab sambil bangkit dan terus mengambil sisir.
Dalam hati aku berkata, “Nggak tahu dia, memang itu yg kuharap”
“Ok mari kita turun, Ina Abang tunggu diruang makan ya.., e.. e.. mandinya jangan lama lama!, busnya cuma berhenti 30 menit”
“Iya bang” Ina berlalu menuju kamar mandi perempuan.
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan sopir yg sudah berganti dan kulihat jam di dinding depan bus menunjukkan pukul 11 malam. Udara didalam bus semakin terasa menusuk tulang, padahal ac sudah di set oleh kondektur pada setting minimum. Namun yg pasti setelah makan malam aku dan Ina sudah semakin akrab, malah sewaktu keluar dari rumah makan dia sempat bergelayutan dipundakku. Karena sama sama kedinginan secara reflex kami mulai saling merapatkan tubuh mencari kehangatan.
“Ina nggak bawa jaket,” aku bertanya karena melihat dia sedikit mengigil kedinginan
“Lupa bang.. Padahal tadi sudah ditarok diatas meja, tapi tak apalah kan ada selimut hangat nih, Abang tak kedinginan”
“Sebetulnya dingin sih, Cuma jadi hangat karena duduk disamping Ina”
“Nah.. Jangan macam macam ya.. Kan sudah janji”dia seperti mengancam aku, tetapi justru duduknya semakin merapat. “He he..” Aku hanya menyeringai dan lansung meraih selimut buat menutupi kakiku.
Kulihat Ina juga melakukan hal yg sama, akhirnya selimut tersebut bertaut menjadi satu menutupi bagian bawah tubuh kami. Lampu interior satu demi satu dimatikan, hanya lampu di pintu toilet yg masih menyala. Sungguh suasana yg sangat romantis, ditambah lagi dengan alunan lembut suara penyanyi dari sound sytem mobil ‘When a Man Love a Woman’. Kali ini jalan yg kami tempuh lebih banyak dalam kondisi lurus serta mulus sehingga memuat sang sopir betul betul memaksimalkan kecepatan busnya.
Guncangan dan bantingan sudah jarang terjadi, akibatnya hampir sebagian besar penumpang tertidur dengan pulasnya. Tapi aku nggak bisa tidur, perasaanku begitu gelisah, hangatnya tubuh Ina telah membangkitkan gairahku. Apa yg harus kulakukan, ini didalam bus bukan dihotel! tapi bukanlah laki laki namanya kalau nggak berani mencoba dan berusaha.
“Ina..”
“Ya bang”
“Ina kedinginan ya”
“Iya bang” Oouup! satu kesempatan terbuka sudah, dengan hati hati kuletakkan tanganku diatas pundak kirinya., lalu kutarik pelan tubuhnya sambil berkata.
“Mungking dengan begini Ina akan lebih hangat..”
“Ah.. Abang” Dia seperti enggan kupeluk tetapi juga tdk berusaha untuk menolak, malu malu kucing kali.
Sekarang tubuhnya telah dalam pelukanku, kepalanya bersandar dipundak kiriku, wangi rambutnya kembali membuka pintu syahwat seorang pejantan. Tangan kanannya kuraih dan jemari nya kegenggam dengan erat, Ina diam.. Hanya nafasnya yg terdengar menjadi lebih berat. Kuremas tangan itu dan dia membalasya.. Wow.. Tubuhku seperti dialiri ribuan watt birahi elektrik. Nafasku mulai memburu dan sesuatu diselangkangan mulai mengejang, meregang tegang, akankah dia dapat jatah kepuasan malam ini.
Aku semakin berani, tangannya kuletakkan dipahaku dan dia kurengkuh lebih erat. Aku ingin menciumnya tapi aku mesti plengak plengok dulu. “Ada yg ngintip nggak ya!”. Orang orang disekelilingku ternyata sudah tidur semua, bunyi dengkur mereka bersahut sahutan, ada yg hanya mendesis laksana kobra, ada pula yg mencicit kayak bunyi tikus dan ada pula yg berat menderam seperti bunyi knalpot Honda tiger, atau jangan jangan sudah pada ngiler kali.
Wah kayaknya situasi sudah aman terkendali, sekaranglah saat yg tepat untuk memulai perang gerilya menyusuri bukit, lembah dan hutan lindungnya si Ina. Bahu kanannya kurengkuh lagi, sekarang wajah kami saling berhadapan, desahan nafas saling menghempas dan mata kami bertatapan dalam remang cahaya lampu mobil yg berpapasan.
“Ina.. Kalau Abang minta sesuatu.. Ina mau nggak!” Aku berfikir, kalau menghadapi gadis yg bersifat terbuka seperti si Ina ini, lebih baik menerapkan strategi terus terang daripada terus tembak.
Kalau terus tembak dan dia menolak, celaka lah kita.. Nggak bakal bisa diapa apain lagi. Tapi kalau kita minta dia nggak kasih.. Ya tinggal dirayu aja, toh masih ada waktu 29 jam lagi, masak nggak dapat sih!
“Abang mau minta apa, kue lagi”
“I yya.. Tapi kuenya lain”
“Kue apa yg Abang maksud..!” Dia mengangkat kepala dan sorot matanya demikian seriusnya menanti jawabanku.
“Abang mau kan kue-kue itu tuh..” Aku sengaja menurunkan tangan kananku sehingga menyentuh payudaranya.
“Kue yg mana bang?” Dia lebih mendekatkan wajahnya kemukaku karena penasaran, saking dekatnya aku dapat mencium wangi bedak yg dia pakai, uh.. Libidoku laksana api disiram bensin, berkobar dan makin berkobar, oh akankah dia mau memadamkan gelora api asmara itu.
“Yg ini.. Ah” Aku sengaja mengosokkan tangan kananku kepermukaan kedua payudaranya.
“Tuh kan.. Betul Abang mulai macam macam kan” Dia berkata sambil mengerutkan jidatnya, tapi posisi tubuhnya sama sekali tdk berubah.
Biasa.. Gadis gadis biasanya tdk akan mengatakan ‘mau’ ketika kita minta, hanya feeling sebagai lelakilah yg dapat menentukan dia mau atau menolak! Malam ini sepertinya salah satu malam keberungtungan dalam hidupku, aku tahu dengan pasti bahwa si Ina sudah jatuh dalam pelukanku. Aku makin mendekatkan wajah ku sehingga bibir kami saling bertemu. Kurasakan tubuhnya bergetar, nafasnya mulai sesak dan dia menarik tubuhnya kebelakang menjauhiku.
“Kenapa Ina”!” Aku bertanya untuk menghilangkan kegugupannya
“Nggak papa bang.. Maaf ini baru pertama bibir Ina disentuh laki laki”
“Oh..” Dalam hati aku berkata ‘Hore’ dapat perawan lagi nih.
“Abang juga minta maaf ya” Aku memang minta maaf tapi pelukan semakin kupererat, sekarang bibirnya bukan hanya kusentuh tetapi mulai kukecup dengan lembut.
Mula mula Ina diam saja, bibirnya bergetar tapi masih tertutup rapat. Kusentuhkan ujung lidahku diantara belahan bibirnya yg merah merekah tiba tiba.
“Oohh bang.. Ina” Kata katanya tak terucap karena bibirnya mulai terbuka dan tanpa buang waktu segera kulumat dengan penuh perasaan.
“Bang.. Jangan..”
“Kenapa.. Sayang”
“Malu ntar dilihat orang”
“Kalau nggak ada yg lihat!”
“Ah.. Abang..”
“Ina.. Semua penumpang sudah tidur kok.. Nggak usah kawatir” Kembali bibir kami berpagutan, lidahku segera kuberi tugas untuk melakukan penetrasi ke mulut Ina dan melakukan liukan demi liukan pemancing serta pembangkit nafsu si Ina.
Ina mulai sedikit terangsang, kalau tadi dia cuma diam dan pasrah, sekarang pelan tapi masih malu malu ujung lidahnya terasa melayani lidahku, mereka beradu dan saling melilit, semakin membakar gairah kami. Tanganku mulai turun meraba payudara kanannya, kurasakan hentakan pada tubuh Ina ketika jari jemariku berhasil menyusup diantara branya. Oh.. Teteknya begitu kenyal dan halus.
“Abang.. Jangan.. Bang” Ina mengeluh tanpa membuka matanya, aku tahu dia tdk sungguh sunguh berkata jangan.
Bisa saja yg diamaksud dengan kata jangan adalah ‘jangan berhenti bang’. Dalam keremangan aku menemukan pengait bra si Ina, rupanya bra itu punya pengait dibagian depan. “Bret” Sekali tarik pengait itu lepas dan oh.. dalam keremangan cahaya yg romatis, aku dapat melihat dengan jelas dua bulatan lonjong memanjang, tergantung didada Ina dengan anggunnya. Bajunya segera kusingkap ke atas dan tanpa dapat ditahan lagi bibir ku sudah mendarat diputing susunya.
“Ah.. Abang, jangan.. Bang.. Jangan..” Hanya kata kata itu yg keluar dari mulut Ina ketika teteknya kuremas dan putingnya kuhisap sambil kujilat.
Aku jadi begitu sibuk berpindah dari payudara kiri ke payudara kanan, meremas, membelai, menghisap, memlintir putingnya dan yg terdengar hanya erangan Ina serta bunyi cpet, cput sshh dari mulut ku yg bermain dipermukaan payudara si Ina. Kuangkat kedua selimut kami agar tetap menutupi semua gerakan yg sedang kami lakukan. Mata sayu Ina sekarang semakin sayu dan redup, bebirnya merekah menunggu sergapan cinta birahiku.
Pelan pelan tanganku mulai turun mencari ujung roknya, sambil membelai pahaya rok itu ku sibak sedikit demi sedikit. Ina tdk menyadari kalau tangan ku sudah tiba dipangkal pahanya, karena dia begitu terhanyut oleh nikmatnya hisapan bibirku diputing susunya. Permukaan tanganku sudah dapat merasakan cairan hangat yg menutupi permukaan memeknya. Lembut memek itu kusentuh dengan ujung telunjukku dan,
“Ah.. Abang jangan sentuh itu.. Bang.. Tolong jangan bang”
“Nggak apa apa kok sayang, Abang hanya menyentuhnya nggak lebih kok” Karena kurasakan tdk ada penolakan dari Ina, aku semakin berani menggarap memeknya. Aku meremasnya dengan penuh irama dan dari mulut Ina hanya lenguhan kenikmatan yg dapat kudengar.
“Ah.. Abang nakal sih”
“Iya Abang memang nakal, tapi Ina sukakan..!”
“Ah.. Jangan dibuka Bang, nanti..” Kata katanya terputus karena clitorisnya kusentuh, tubuhnya kembali bergetar hebat dan pinggulnya mulai bergerak mengikuti irama jari jariku dipermukaan memeknya.
Pahanya sedikit kurenggangkan agar memek Ina lebih terbuka. Ina tdk lagi peduli dengan orang orang disekitarnya, erangannya makin lama makin keras terdengar.
“Ina.. suaranya ditahan dikit..”
“Abang sih, nakal..” Dia menjawab sambil melumat habis bibirku.
Jariku mulai menyibak belahan memeknya yg hangat dan terasa licin karena basah. Aku tahu dia masih perawan karena itu aku hanya membiarkan jari telunjukku membujur menutupi lobang memeknya. Sesekali kugerakkan agar dapat menyentuh clitorisnya. Erangan demi erangan lamat lamat terus terdengar dari mulut Ina, tapi sekarang tiba tiba dia diam menahan nafas, tubuhnya mengigil, tangannya erat merangkul pundakku.
“Kenapa Ina,” aku bertanya.
“Bang.. Ina nggak tahan, sepertinya mau pipis, oh.. Enak bang.. Terus.. Sentuh lagi Bang, terus” Aku dapat merasakan kalau Ina sudah mendekati orgasmenya yg pertama, jari jemariku semakin lincah bermain di permukaan memeknya, puting susunya terus kuhisap dan kujilat, sedangkan tangan kiriku tak henti meremas payudara kirinya.
“Oh.. Abang.. Ina.. nggak.. Tahan” Cengkraman tangannya terasa begitu kuat di pundakku, pinggulnya bergoyg hebat, matanya mendelik sehingga hanya putihnya yg kelihatan.
Sementara itu tangan ku basah disirami tetes tetes cairan kenikmatan ketika Ina mencapai klimaksnya. Sekarang dia terdiam dengan nafas yg memburu, kepalanya tersandar didadaku. Gejolak birahiku makin menjadi, sambil menciumi rambut kepangnya aku membuka ruesleting celanaku. Tangan Ina kuraih dan kutuntun agar memegang penisku yg sudah tegang menantang. “Oup” Dia kaget dan geli ketika merasakan gerakan reflek penisku disaat kesentuh tangan halusnya.
“Nggak pa pa.. Ayo” Kembali kutuntun tangannya, kali ini dia berani menggenggam bagian tengah penisku.
“Ina di kocok kocok dong”
“I.. I.. iih.. Ina geli bang” Walupun dia bilang geli tetapi pegangannya tdk lepas dari penisku.
Dia seperti anak kecil dapat mainan baru, sebentar pegangannya erat sebentar dia lepas, sebentar dia mengocok tapi tiba tiba berhenti. Justru cara dia seperti itulah yg membuat nafsuku merasuk sampai ke ubun ubun.
“Oh.. Ina.. Ujungnya dibelai sayang”
“Tapi basah bang”
“Iya.. Basah itu damai ee.. eh.. nikmat sayang”
“Ina pernah lihat orang beginian nggak sebelumnya”
“Pernah Bang hampir tiap hari, soalnya Ibu Ina kawin lagi dan suaminya lebih muda dari Ibu, Ina sering ngintip mereka begituan”
“Mereka ngapain aja In,” kerongkongan ku tiba tiba terasa serak karena ditimpa nikmatnya elusan tangan halus si Ina di ujung penisku.
Aku sengaja mengajak dia ngobrol untuk memperlambat ejakulasiku. Dari tadi hentakan spermaku sudah mulai mengila ingin berlomba menempuh lubang penis dan saling berebut menyembur diujung lobang super nikmatku. Padahal aku ingin lebih lama merasakan nikmatnya sentuhan jari jemari si Ina, dan dengan sedikit memecah konsentrasi kuharap ledakan sperma dapat kuperlambat.
“Ya.. Kadang mereka langsung main aja, bapak tiriku diatas, kadang kadang mereka saling remas remasan dan pernah pula Ina lihat mereka main jilat jilatan.”
“Ah.. jilat jilatan kayak apa In”
“Ibu menghisap punya papa tiriku, dan bapak tiriku menjilat punya Ibu.. Ya begitu”
“Emang bisa.. Punya laki laki dihisap In..” Aku pura pura bego dalam rangka mencapai target berikutnya.
“Bisalah bang, nah kayak gini nih” Ina menundukkan kepalanya diantara kedua pahaku, selimut kembali kutarik sehingga kepala Ina tdk lagi kelihatan dari luar, yg tampak hanya gerakan turun naik dibalik selimut.
Ina mencoba memasukkan semua batang penisku kemulutnya, dia tersedak karena langit langit dan anak lidahnya tertusuk ujung penisku.
“Ina jangan dikulum semuanya, dihisap dan dijilat aja berulang ulang,” aku memberikan petunjuk.
“Euh.. euh..” Dia menjawab tapi nggak jelas karena penisku memenuhi rongga mulutnya, yg pasti dia mengerti dengan apa yg kumaksud.
Kepalanya mulai turun naik, ujung penis ku dihisap berkali kali.
“Ohh Ina. Terus sayang.. terus.. Terus..” Dan tiba tiba kakiku kejang, mataku terpejam, tubuhku terasa melayg dan semprotan itupun terjadilah.
Spermaku kuat menyemprot kedinding mulut si Ina, dia tdk menygka kalau aku akan mengeluarkan cairan itu didalam mulutnya. Dia gelagapan dan..
“Uek.. uek.. Uek..” Ina muntah..!! Cepat kulap mulutnya dengan ujung singletku, sisa sisa sperma yg berserakan diseputar bibirnya kuhapus dengan ujung selimut dan celanaku segera ku kancingkan lagi.
“Oi.. Mabuak dia”.
Ibu-ibu dibelakang bangkuku berdiri mendengar suara Ina yg muntah muntah.
“Ini nih ado kantong assoiy nih ambil, biar nggak berserakan muntahnya.. Apo perlu antimo ndak” Ibu itu begitu baik menawarkan bantuannya.
“Makasih Bu, yg kami butuhkan tissue Bu, ada nggak..”
“Oh.. Ado, nih ambillah” Memang yg kubutuhkan adalah tissue buat pembersih sperma yg tercecer dibaju Ina dan di celanaku.
Orang Ina bukan mabuk darat kok tapi mabuk sperma. Yg dia butuh bukan antimo tapi antihamil. He.. he..
“Bang baunya anyir Bang, nggak mau hilang”
“Ok, sekarang Ina ke toilet aja dan cuci pakai sabun”
“Oh, iya deh bang” Aku merasakan CDku basah berlepotan sperma, yah biarin lah yg penting nikmatnya sudah kuteguk.
Tak lama kemudian bus berhenti di pom bensin buat mengisi bahan bakar. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 3 dinihari dan ini kesempatan untuk membersihkan celana dan burungku yg habis muntah muntah. Menurut kondektur kami telah sampai diperbatasan Propinsi Jambi dan Sumatera Selatan.
Wah.. Sebuah perjalanan yg nyaman, nyaman dalam arti yg sebenarnya karena selama lima jam terakhir yg kami tempuh adalah jalan lurus dan mulus, hanya sesekali ada belokan dan itupun tdk begitu terasa karena pengemudinya begitu trampil mengatur kecepatan sewaktu menempuh tikungan. Nyaman, karena ada si Ina disampingku dan kami sama sama menikmati kebersamaan kami. Saling menghangatkan, saling menerima dan saling meberi apa yg dapat kami nikmati. Perjalanan masih sangat jauh, sekian kota lagi yg mesti kami lewati tetapi karena ada si Ina disampingku perjalanan ini terasa indah dan cepat.
Perjalanan masih sangat jauh, sekian kota lagi yg mesti kami lewati tetapi karena ada si Ina disampingku perjalanan ini terasa indah dan cepat. Tak terasa kami sudah menyebrangi selat Sunda, seharusnya ferry kami langsung merapat tetapi ini sudah hampir 2 jam masih saja terapung apung menunggu giliran sandar. Rupanya di dermaga terjadi kerusakan akibatnya hanya satu dermaga yg berfungsi.
“Bang jam berapa kira kira kita sampai Jakarta!”
“Bisa bisa jam 12 malam..”
“Aduh kalau nggak ada yg jemput aku, gimana ya” Ina baru pertama kali ke Jakarta dan keluarganya ada di Depok, memang mereka telah benjanji mau menjemput di Rawamangun, tapi kalau mereka lupa atau..
Itulah yg membuat Ina tampak gusar, dia berpegangan di ralling ferry sambil memandang jauh ke arah kerlap kerlip lampu Krakatau Steel.
“Begini, kalau nanti nggak ada yg jemput, Ina ikut Abang aja, besok pagi pagi sekali Ina Abang antar ke Depok.. Ok!”
“Ya.. Gimana ya..” Dia kelihatan ragu.
“Atau Ina mau menunggu mereka sampai pagi di Rawamangun”
“Enggaklah Bang.. Ngeri.. Katanya disitu banyak preman..”
“Makanya yg paling aman ikut Abang aja.. Nanti kita tidur di..”
“Ina.. Nggak mau tidur dipenginapan Bang, nggak mau..”
“Lho siapa yg mau ngajak Ina ke penginapan! Nggak lah, suer Abang janji, lagian penginapan kan biasanya kotor and jorok” Kami saling menempelkan tangan kanan sebagai tanda setuju.
“Rawamangun.. Rawamangun.. Jakarta.. Jakarta.. sampai sampai” Suara gaduh dan kilauan cahaya lampu membangun aku dari tidur nyenyak semenjak bus turun dari ferry di Merak.
“Ina.. Bangun kita sudah nyampe.” Kulihat jam ku sudah menunjukkan kukul 01.30 dinihari.
Ternyata feeling Ina memang betul. Setelah hampir 15 menit mencari kesana kemari disekitar terminal, kami tdk menemukan saudara Ina yg katanya mau menjemput.
“Bang, gimana dong Bang, kok nggak ada yg jemput Ina.”
“Ya sudah.. Ina ikut Abang aja ya” Wah aku harus berfikir keras kemana si Ina harus kubawa malam ini, kerumah! Jelas nggak mungkin, kecuali mau perang bubat dengan mantan pacar. Nah! Aku ada ide.
“Bang ke Central Bang” Sopir taksi ternyata mengerti dengan apa yg kumaksud.
“Yg di jalan Pramuka Pak”
“Betul Bang” Aku sengaja hanya menyebutkan nama sebuah hotel tanpa mendahuluinya dengan sebutan hotel supaya Ina tdk curiga. Di taksi Ina kembali tertidur pulas dan baru bangun setelah aku bangunkan untuk segera check in. “Ina.. Ina, ayo bangun bangun..”
“Ouhh.. Kita dimana bang..”
“Ayo turun dulu”
“Wah.. Bang, Ina nggak mau kepenginapan.. Kok Abang malah”
“Ina.. Ini bukan penginapan tapi hotel, ayo.. malu tuh diliatin orang” Dengan langkah gontai karena masih mengantuk Ina kutuntun menuju lantai 7 hotel tersebut.
“Bang Ina mau mandi dulu ya”. Kayaknya badan Ina sudah gatal semua”
“Iya deh.. Abang pesan makanan ya” Sebelum masuk ke kamar mandi Ina mengeluarkan semua isi katong roknya, isinya beberapa uang logam, permen yg tadi kami beli sewaktu di ferry tissue dan sebuah kartu pelajar.
Segera kulihat dengan seksama kartu tersebut Nama: Rostiana Kelas: II B SMP Negeri “Oh my God”. “Kali ini feelingku kembali terbukti, Ina bukan tamat SMU seperti yg dia bilang, nyatanya baru tamat SMP, tetapi kenapa dia mesti berbohong untuk itu”. Kalau dilihat dari penampilan, tak seorangpun akan menampik kalau dia sudah tamat SMU. Tinggi sekitar 162, berat sekitar 51 kg dan bra 36.., rambut panjang dikepang, yah.. Harus diakui Ina gadis yg cepat matang secara phisik.
“Ina.. Ayo kita istrirahat yok, pantat Abang rasanya pegal banget nih”
“Ayo bang” Kami segera menuju satu satunya tempat tidur di kamar itu karena memang aku sengaja memesan kamar dengan single bed.
Aku tahu Ina tadi tdk pakai kosmetik apa apa maklum sudah mau tidur, tetapi wangi asli tubuhnya jauh lebih merangsang dari pada parfum keluaran Paris sekalipun.
“Na.. Keramas ya!” aku bertanya sambli memeluk dan menciumi rambutnya.
“Iya.. Bang, kan katanya kalau habis gituan harus keramas”
“Lha, Ina kapan gituannya”
“Dasar Abang, sudah pikun kali ya”
“Tuh yg kemaren malam di bus kita ngapain.. Ayo..”
“Ee.. Eh iya. Maksud Abang kita kan hanya” Aku sengaja tdk meneruskan kalimat, aku menunggu reaksi Ina.
“Tapi.. Ina kan keluar Bang. Dan Abang juga lho” Aku nggak peduli lagi dengan kata katanya, karena wangi rambutnya telah membuat otak kanan dan kiriku, sekarang kompak memikirkan satu tujuan yaitu memberikan yg terindah buat kepala bawah alias penisku.
Tubuh kami saling berhadapan ditempat tidur, sewaktu membalikkan badan, dada Ina sempat tersentuh oleh tangan ku dan aku dapat merasakan kalau Ina kali ini tdk lagi pakai bra. Darahku berdesir tiba tiba, degup jantung ku menaik, kepala atas dan bawah mulai berdenyut. Kurengkuh pinggulmya dengan tangan kanan sehingga tubuh kami jadi berdempetan.
Teteknya yg lembut dan padat terasa menekan dadaku dan paha kami saling menempel. Ina hanya pakai daster yg sangat longgar sedangkan aku sedari tadi sudah telanjang dada, hanya sehelai celana pendek tanpa CD yg saat ini kupakai. Bibir kami saling bertemu, Ouuhh.. aku nggak sabar lagi, bibir merah itu lansung kulumat. Bibir kami saling berpagutan dan sekarang lidahku mulai keluar menjilat rata permukaan bibirnya.
“Oh.. Abang.. Jangan bang..” Ina merintih, tetapi aku tahu pasti dia tdk bermaksud melarangku.
Tangan kananku mulai turun menyingkap dasternya, oh.. paha dan pantatnya demikian mulus. Kuremas pantat itu dengan lembut serta kutarik CDnya dengan pelan. Bibirku tak puas hanya diatas, sekarang dia mulai turun meniti leher Ina yg jenjang terus ku geserkan kesela sela kupingnya. Dalam keremangan dapat kulihat bulu bulu halus di kuduknya pelan pelan berdiri karena rasa geli bercampur nikmat. Kukecup leher Ina..
“Bang.. Hati hati.. Jangan dicupang, ntar kelihatan”
“I.. ya, jangan kua.. tiir” Aku terus mengembara dengan bibirku, kecupan demi kecupan telah membuat Ina memejamkan matanya karena nikmat.
Kugeser kepala ku sedikit kebawah dan oh.. Payudara itu demikian ranumnya. Semalam memang aku sudah meremas dan dan menghisapnya, tetapi baru kali ini aku dapat melihat bentuknya dengan jelas. Payudara Ina putih sekali, saking putihnya aku dapat melihat urat urat kecil bewarna merah dan biru seperti menempel dipermukaan kulitnya. Putingnya kecil, runcing dan memanjang (pantas semalam enak banget ketika dikenyot) sekitar puting berwarna coklat muda dan di payudara kiri masih tersisa sedikit warna merah bekas kecupanku tadi malam.
Segera kubenamkan kepalaku diantara dua bukit indah tersebut, Ohh.. sungguh nikmat menancapkap bibir serta lidah di daging kenyal itu. Pelan kubelai pangakal payudara itu, terus, terus memutar pelan menuju putingnya. Tubuh Ina menggelinjang dan sekarang dia telentang, telanjang, mengangkang dan mengerang sambil menantang.
“Bang.. Ina.. Nggak tahan, sekarang terserah Abang aja.”
“Iya sayang”
“Tetapi kenapa Ina bohong sama Abang” Aku coba mencari tahu sambil terus turun menjilati perut dan pusarnya.
“Auh.. Abang.. ge.. geli.. Tapi.. Terus bang” Pantat Ina mulai bergerak liar, membuat penisku tambah tegang dan mulai mengeluarkan lendir puith di ujungnya.
“Ina benci selalu dibilang masih kecil.. Sama bapak tiri Ina”
“Terus” “Katanya sama Ibu, Anakmu itu kan masih kecil, ayo nggak apa apa kita main aja aku sudah nggak sabar kalau mesti nunggu dia tidur”
“Apa maksudnya dengan main ajaa..” kata kataku sedikit terputus karena aku berusaha melepaskan celana pendekku. “Maksudnya, mereka langsung begituan, padahal kamarku cuma dibatasin triplek tanpa loteng” Ina sekarang semakin erat memelukku, dibagian bawah aku dapat merasakan penisku tepat berada diatas bulu bulu halus memek Ina yg tumbuh belum sempurna, geli dan.. sangat merangsang.
“Jadi Ina ngintip mereka”
“Mula mula nggak sih bang, tapi.. lama lama Ina dengar Ibu mengerang-mengerang dan berkata ou.. ou.. ou.. jangan dulu, jangan dulu. Oh.. aku nggak tahan.. ouh.” Sekarang batang penisku persis dibelahan memek Ina.
Memeknya terasa hangat dan mulai berlendir.
“Ina penasaran. Eh rupanya Ibu telanjang dan diatasnya kulihat bapak tiriku lagi asyik menghisap puting payudara Ibu dan Ina mendegar bunyi aneh.. Klepok, klepok tiap kali pantat dan pinggul mereka beradu”
“Oh.. Ina yg mereka lakukan sama seperti apa yg sekarang kita rasakan”
“Iya Bang.. Ina bukan anak kecil lagi kan. Buktinya sekarang Ina sudah bisa kayak Ibu telanjang dan Abang diatas Ina.”
“Iya sayang” Bibirku sampai diperbukitan paling indah yg pernah aku lihat.
Bulu memek Ina masih sangat jarang, warnanyapun masih kemerah merahan. Semalam aku mengira dia mencukur bulu bulu itu, tetapi rupa rupanya bulu itu memang belum tumbuh dengan sempurna. Kukecup bulu itu, turun menuju belahan memeknya, ah.. warna merah muda menyembul ketika bibir memek Ina kusibak dengan jariku. Bibir kiri dan kanan memeknya sedikit bergelambir atau seperti ada sayatan kulit tipis persis dipinggir mulut memek, segera kuhisap pelan clitorisnya.
“Bang.. Terus.. Bang.. oouueenak Bang” Pinggul Ina mulai bergoyg dan pahanya terasa menjepit kepalaku sedangkan kedua tangannya mendorong agar kepalaku lebih dalam terbenam ke dalam memeknya.
Segera kujilat klitorisnya dan pelan pelan lobang memeknya juga kujilat dengan ujung lidahku, cairan putih bening mulai mengalir dari dalam memek yg masih tertutup rapat karena masih perawan.
“Ina, coba pahanya direnggangkan dikit” Aku merubah posisiku sedikit lebih tegak dengan bertumpu pada kasur agar penisku bisa lebih leluasa bergerak dipermukaan memek Ina.
“Abang, mau diapain Bang”
“Oh tolong payudara Abang dibelai belai, ayo sayang” Oh.. Kenikmatan luar biasa segera menjalari setiap ruang pori poriku ketika payudaraku diplintir lembut oleh Ina, tdk itu saja, tiba tiba dia bangkit, sambil bergelantungan dipundakku Ina menghisap kedua tetekku bergantian.
“Oh.. Ina.. Pelan pelan sayang. Abang jadi nggak tahan”.
” Kedua paha Ina sekarang terpentang lebar, memeknya terbuka dan siap menerima tusukan tusukan penis yg menegang.
Kugeser pinggulku ke atas dan kebawah lembut berirama, penisku bergerak seperti mencongkel clitoris Ina, Ina makin teransang. Sekarang tercapai sudah keinginanku melihat kedua mata sayu itu dalam keadaan horny, memang indah dan sangat merangsang. Lendir semakin membasahi kedua kelamin kami, gerakan penisku semakin lancar dan lincah diatas permukaan licin memek Ina. Tiba tiba dia memeluk erat pinggulku.
“Bang Ina ingin sekali jadi wanita yg sempurna”
“Maksud Ina”
“Ina mau, Abang masukkan penis Abang. Tapi Ina juga masih takut kehilangan perawan Ina, gimana nih bang, Ina nggak tahan” Ina meminta dengan pasrah, kulihat bibirnya setengah terbuka menunggu lumatan dan matanya sayu terpejam lemah.
Aku dapat merasakan getaran tubuhnya yg dahsyat karena itu gerakan pinggulku semakin kupercepat. Setelah 6 sampai 8 kali ujung penisku melindas clitorisnya Ina menjerit.
“A.. a.. a.. Abang, Ina lepaass lagi” Pelukannya demikian erat dan pada saat itu pula penisku berdenyut keras sekali, air itu bergerak liar dari selangkanganku, kepangkal paha terus menuju batang penis yg berdiri tegak dan oh.. dia menyembur keluar.. lepas.. lepas..
Kupegang kepala penisku yg masih berdenyut dan menyemprot terpatah patah, kujepitkan diantara kedua payudara Ina, Ina senang sekali. Kedua teteknya dia jepit dengan tangannya sehingga menimbun hilang semua batang penis dipangkal payudara tambun itu.
“Bang, kenapa tadi Abang nggak masukkan aja”
“Ina, masa depanmu masih panjang sayang.. Kamu masih muda. Dunia memang berlaku tdk adil terhadap kaummu. Kami para lelaki dengan gampang bisa membuang keperjakaan dimana saja, di tempat lacur, di kamar mandi dikandang binatang, ya dimana saja kami suka. Tdk ada yg ribut.”
“Maksud Abang?” Ina melap keringat yg menepel didahiku..
“Kebanyakan lelaki masih saja menuntut kamu perawan sampai ke malam pertama, Abang tahu ini sangat berat buat kalian para perempuan. Lihatlah godaan itu begitu banyak hampir disetiap sisi kehidupan.”
“Jadi gimana dong bang. Aku kan kepingin nyoba juga”
“Ya.. Itu bukan berarti kamu nggak bisa mencobanya, kamu bisa melakukan dan merasakan kenikmatan sex itu tanpa harus kehilangan keperawananmu”
“Oh iya. Ina ngerti sekarang, thank you bang. Abang telah ngajarin Ina mencicipi kenikmatan itu dan Ina toh masih tetap perawan kan”
“Iya, tapi kamu mesti hati hati, kamu hanya boleh melakukannya dengan orang yg sudah bisa mengontrol emosinya, jangan lakukan dengan pacarmu yg sebaya”
“Emang kenapa bang..”
“Kalau saja tadi Abang nggak bisa menahan diri, ya.. Sekarang kamu sudah nggak gadis lagi, perawanmu tinggal kenangan.. He he.. he..” Aku mencium bibirnya yg setengah terbuka karena mau komplain.
“Jadi kalau gitu, Ina mesti lakukan dengan siapa dong kalau lagi kepengen”
“Ya sama Abanglah, jangan sama yg lain he.. he.. he” Cubitan bertubi tubi mendarat dipingangku membuat aku harus lari dari tempat tidur ke kamar mandi dalam keadaan telanjang lancip eeh bulat.
“Ina”
“Ya.. Bang” “Coba dengar lagu itu” Saat itu kami berada didalam taksi menuju ke rumah saudaranya Ina di Depok, kebetulan dari radio terdengar sebuah lagu lama Crisye yg diaransement baru.
“Anak sekolah datang kembali dua atau tiga tahun lagi”
“Bang. Bang. Tukar aja stationnya bang” Ina cemberut karena nggak mau dibilangin masih kecil
“Iya dik..”
“Eh Bang aku sudah besar tauk, jangan dipanggil dik, semalam aja aku sudah bisa” Mulutnya langsung kubekap dengan tangan kananku, takut dia malah buka rahasia kami semalam.
Sopir taksi cuma mesem mesem sambil memindahkan gelombang radio ke station lain.
“Ok para listener dimana saja anda berada, kami tahu sore ini macet terjadi dimana mana, kami minta anda bersabar dan untuk menemani perjalanan anda berikut sebuah nomor lama, ‘When a Man Love a Wooman’”
“Tet.. tet.. Titt.. eh.. maju.. Oi.. Jangan tidur..” Macet dipintu tol Rawamangun mulai mencair, kulihat gadis berkepang dua melambaikan tangannya dari atas bus dan masih saja senyum dikulum.
Buat dia tdk ada yg perlu dipermasaalahkan tinggal duduk di bangku empuk bus super executive sambil menonton taygan video. Lagu Michahel Bolton dan teriakan, serta suara gaduh klakson mobil telah merenggut khayalan indahku dengan si Ina. Semenjak itu aku hanya dapat berita bahwa dia pindah ke Surabaya ikut dengan Ibunya yg sudah bercerai dari bapak tirinya.
AGEN CAPSA
BANDAR CAPSA
BINTANG CAPSA
LINK ANTI NAWALA : http://192.169.219.143/
Subscribe to:
Comments (Atom)











